I Know What You Did On Facebook (Generasi Sosmed)

Saya gak tau mau ngasih judul apa. Banyak sih judul yang bergelayut di kepala saya, tapi ini aja deh yang pas. Udah mencakup semuanya. Ini adalah celotehan saya di awal tahun seiring dengan perkembangan zaman yang makin apdet 😀

Zaman bener-bener udah berubah. Saya katakan berubah karena perubahannya bener-bener drastis. Yang paling sering kita lihat adalah semakin canggihnya teknologi. Akhirnya sekarang, kayaknya bencana banget kalo kudet (kurang apdet). Jaman saya kecil dulu *jaman kapan ya?* mainan gadget itu kayaknya gak kepikiran. Dulu mainannya mah petak-umpet, boneka, rumah-rumahan, masak-masakan, de es be. Tapi, kalo sekarang semuanya digital. Mau main petak-umpet dari yang paling cemen sampai yang paling kece kayak Counter Strike, mau main rumah-rumahan ada The Sims, mau main masak-masakan ada Cooking Academy. Belum lagi game-game arcade lainnya. Dunia digital gak ada matinya emang.

Yang paling mainstream saat ini adalah sosmed atau jejaring sosial aka situs pertemanan. Sebut saja nih Fesbuk, Tweeter, Instagram, G+, Path, Tumbeler, de es be. Ya, siapa saja bisa mengakses semua sosmed tersebut. Mau apdet status, upload foto, de es be, semuanya bisa. Cuma ternyata, media yang sangat mengakomodir naluri manusia ini (khususnya naluri baqo’ dan nau’) akhirnya kebablasan karena kurangnya kontrol dan aturan. Hellow, jaman liberty kayak gini getho loh *sumpah lebay banget gue*Akhirnya, dari sini menjamurlah segala jenis kosakata dan jenis penyakit sosial, seperti lebaynis kronis, bahasa alay, stalker, kepo dan sejenisnya. Dan ini paling banyak menjangkiti generasi muda khususnya yang lagi jomblo. Ini juga yang membidani lahirnya kaum geger (Generasi Galauner).

Di dunia maya (sosmed) apa sih yang gak bisa diutarakan? Mulai dari kegalauan diri sampai ngelamar pujaan hati juga bisa lewat sosmed. Apa yang gak bisa dicari di sosmed? Mulai dari teman lama sampai bidadari impian bisa dicari lewat sosmed. Waaw, canggih ya? Emang canggih. Cuma ya gitu, karena gak ada aturan akhirnya kebablasan. Dan harus saya akui, sosmed-an itu benar-benar menguras waktu dan biaya. Emang sih, banyak berita update yang bisa diakses dan dishare. Tapi, ternyata lebih banyak yang menceburkan diri terlalu dalam ke sana. Bahkan gak jarang, pengemban dakwah ideologis pun kecipratan. Saya gak pengen nyebut merk, Cuma sayang aja kalo ternyata bobrok-bobroknya kita di sosmed akhirnya memperburuk citra jama’ah di luar.

Makanya, kontrol diri harus lebih ketat dan kontrol masyarakat juga. Lebih jauh lagi, kontrol Negara. Cuma emang sekarang belum ada Negara yang mau mengontrol aktivitas rakyatnya dengan kontrol yang memanusiakan. Kenapa gitu? Karena hati itu hijabnya tipis banget. Kalo gak bener-bener punya standar pemahaman yang benar akhirnya terbawa arus. Atau mungkin sebenarnya punya, tapi karena berhadapan dengan kenyataan, pemahamannya akhirnya lenyap entah kemana.

Well, guys. Daritadi saya berceloteh ria di sini sebenarnya maksudnya apa sih? Saya Cuma ingin menegaskan bahwa yang namanya sosmed itu aslinya mubah. Bisa dipilih, mau iya mau gak. Lihat efektivitasnya aja. Oke kalo dakwah di dunia maya emang ternyata efektivitasnya bisa mengoptimalisasi yang lain, why not? Cuma yang harus diingat bahwasanya kita adalah pengemban dakwah. Pengemban dakwah ideologis dan kita juga manusia. Yang namanya manusia itu punya naluri. Ada baqo’, nau’ dan tadayun. Tidak lupa juga, manusia itu punya akal yang membantu dia untuk mencapai kebenaran dalam hidup. Nah, soal sosmed itu harus dilihat lagi urgensitasnya sampai mana. Berhubung kita seorang Muslim, maka sudah seharusnya Islam yang menjadi patokan dalam setiap perbuatan kita. Bukan mengedepankan perasaan atau emosi sesaat. Menjamurnya sosmed emang menjadi pintu gerbang tereksplorasinya naluri khususnya baqo’ dan nau’, dimana orang yang di dunia nyata bahkan mungkin tidak kelihatan, di dunia maya bisa menjadi orang yang sangat eksis. Dan di dunia maya juga akhirnya bermunculan penyakit narsis yang naudzubillah semoga kita bukan yang seperti itu. Dan semoga Allah menutupi aib kita dimanapun kita berada, aamiin. Belum lagi interaksi yang bebas. Semoga kita tidak terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan sehingga Allah dengan cepat menurukan pertolonganNya untuk agama ini. Maka, siapapun seharusnya terlebih pengemban dakwah yang memiliki tsaqofah bisa bersikap bijak dengan fenomena sosmed. Dan akhirnya gak ada lagi cerita pengemban dakwah menggalau di facebook, twitter, dsb terkait masalah pribadi, kantong keringlah, jodohlah, dimarahin musyrif(ah)lah dan sejenisnya. Because, I know what you did on Facebook 😀

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab.

Setelah hujan menyapa. January 4th 2014.

Advertisements

Author:

Muslimah | 92 Line | INFP | Free Spirit "A" Type | Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia | Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s