INFP and Their Imagination

Dalam banyak artikel tentang MBTI, INFP sering disebut sebagai Dreamer. INFP adalah orang-orang yang amat sangat kreatif menurut MBTI. Mereka bisa membuat imajinasi mereka terlihat begitu nyata. If ISFP is said as artist, INFP is art itself. Ya, para INFP itu adalah para pemimpi tingkat Firdaus. Makanya, dalam berbagai artikel, karir yang cocok buat INFP yang berhubungan dengan dunia kreatif, kalau bukan penulis atau sastrawan, pasti musisi atau seniman. Kenapa? Ya, karena imajinasi mereka yang luar biasa itu 😄

Bagi INFP, imajinasi adalah bagian dari hidup. Rasanya aneh kalau sehari aja gak berimajinasi tentang sesuatu. Gak heran kalau INFP suka dengan alam. Kalau udah jalan trus ngeliat pemandangan, bbaam imajinasinya bisa kemana-mana. Saya merasakan itu. Betapa bahagianya saya pas saya jalan trus lihat langit, dengerin suara air, lihat laut dan sejenisnya. Cuma gitu doang tapi bisa bikin saya bahagia banget. That’s a definite happiness for me. Really.

Saya juga senang banget pas tau grup favorit saya punya dua orang INFP di grup mereka (dan satu orang ENFP, soulmate INFP hehe) and they are really talented. Siapa lagi kalau bukan Kim Namjoon dan Jeon Jungkook?? Dalam banyak hal, saya ngerasa mirip sama Namjoon. The way he looks at something, makes me feel relatable in many ways. Haha saya jadi mikir, ooh gini rasanya kalo merhatiin orang yang setipe sama kita? Berasa dimengerti 😄 Saya bersyukur banget bisa tau Bangtan soalnya banyak banget yang bisa saya pelajari dari mereka, khususnya dari Namjoon yang juga seorang INFP. Bedanya dia emang cerdas. IQ-nya jauh di atas saya trus dia juga lebih muda dari saya 😄 Tapi gapapa, bedanya gak jauh banget kok 😁

Gak cuma itu, hal lain yang saya syukuri adalah salah satu sahabat saya adalah INFP. Bagi teman-teman saya yang bukan INFP, berimajinasi or simply said daydreaming adalah hal yang aneh dan mungkin bikin mereka risih. Tapi bagi kami, para INFP, berimajinasi adalah sesuatu yang biasa dan kami bahagia dengan itu. Kalo buat INTJ dan INTP, diskusi soal hal serius itu adalah kebahagiaan, buat INFP, bisa berimajinasi sampai ke ujung galaksi itu adalah kebahagiaan. Makanya saya lebih suka ngajak teman sesama INFP daripada yang bukan INFP kalau soal imajinasi soalnya paling nyambung kalo berimajinasi bareng bareng INFP. Nobody can stop us from dreaming 😆 Tapi apakah INFP itu hanyalah seorang pemimpi yang gak menjejak bumi? Oh, tentu tidak. INFP itu bisa kok realistis. Cuma emang kalo yang lagi gak sehat, biasanya melarikan diri ke dunia imajinasi soalnya kadang dunia nyata itu terlalu menakutkan buat mereka. Tapi, aslinya INFP bisa realistis kok. Buktinya, INFP adalah orang-orang yang sangat peduli pada orang lain. Mereka pendengar yang baik dan selalu berusaha untuk menemukan sisi positif dari siapapun yang mereka temui. Ajaibnya, mereka selalu bisa menemukan sisi positif orang lain dan itu menakjubkan.

Jadi, buat kamu yang punya teman seorang INFP, treasure them with all your heart. Mereka emang kelihatan mellow dan cengeng at some points. Tapi gak semua hal bikin mereka mellow. Mereka bisa serius kalau mereka harus serius dan mereka bisa jadi yang paling receh kalo mereka harus ngereceh. INFP itu orang-orang yang menyenangkan meskipun mereka kadang gak realistis dan terlalu banyak berimajinasi. Tapi percayalah, orang-orang futuristik seperti INFP adalah orang yang dibutuhkan di masa depan. Ide-ide mereka mungkin absurd tapi tidak untuk masa depan.

For all INFPs out there, let’s stay grateful with every little thing in our life. Let’s be happy with who we are. Let’s love ourselves cause love is always start with us, our acceptance and our compassion for ourselves 💜

Advertisements

Me and Idul Fitri

Sebagai seorang introvert, saya merasa tidak nyaman kalau harus ke tempat yang ramai. Dalam konteks Idul Fitri, saya sering merasa insecure kalo harus lewat di depan banyak orang. Berasa jadi pusat perhatian padahal mah saya aja yang kegeeran kali ya? Tapi emang saya gak nyaman jadinya. Apalagi kalau harus nyapa untuk sekedar salaman. Bukan bermaksud sombong atau gak ramah, tapi asli itu adalah the most awkward moment in my life, haha. Makanya kalo momen Idul Fitri yang rame dan membutuhkan interaksi sosial dengan kadar yang lebih tinggi, saya pasti ngajak orang soalnya kalo saya sendirian, saya gak akan sanggup haha.

Kalo di Indonesia, Idul Fitri jadi momen untuk reuni dengan teman-teman atau pun keluarga. Saya sebenarnya senang kalau ada keluarga yang berkunjung, sayangnya saya terlalu awkward untuk bisa menyesuaikan diri dengan percakapan. Begitu juga dengan teman-teman lama. Makanya, saya terkesan pemilih. Saya lebih nyaman dengan orang-orang yang sudah saya kenal jadi ngobrolnya juga lebih ngalir dan asik karena saya masih belum bisa menguasai jurus Small Talk alias basa-basi, hehe. Saya bukan gak suka basa-basi karena sebenarnya saya bisa jadi orang paling receh di jagad raya. Tapi saya gak terbiasa kalau harus memulai semua percakapan itu. Saya jadi panik kalau sudah kehabisan bahan obrolan dan berakhir dengan backsound krik krik krik XD

Momen Idul Fitri bagi saya adalah momen yang menakutkan di satu sisi, tapi juga berkesan di sisi yang lain. Menakutkan kalau saya harus berhadapan dengan orang-orang yang saya gak begitu kenal dan harus berinteraksi dengan mereka. Tapi bakal berkesan ketika saya menghabiskan waktu dengan teman-teman yang sudah saya kenal dan akhirnya kita bisa berbagi cerita. Namun di atas itu semua, saya suka momen Idul Fitri saat saya gak ngapa-ngapain, meskipun saya gabut setengah hidup, tapi waktu berlalu begitu cepat saat saya bangun dari tidur siang 😄

17 Juni 2018. 3 Syawal 1439.

EPILOG; FINDING ME

Project #30daysramadhanwriting memang sudah berakhir. Epilog ini hanya untuk menggenapkan saja karena kan harusnya emang 30 hari. Tapi, Ramadhan kali ini sama dengan tahun lalu, hanya 29 hari, jadi harus nambah satu hari lagi. Hmm, mungkin ini cuma cuap-cuap saya aja tentang tema Finding ME yang saya gagas di #30daysramadhanwriting tahun ini.

Kenapa Finding ME? Karena saya merasakan kehilangan diri saya sendiri sejak dua tahun yang lalu atau bahkan mungkin di tahun-tahun sebelumnya. Saya menghabiskan banyak waktu untuk mengutuk diri sendiri, menyalahkan dan membencinya. Oleh karena itu, Finding ME ini adalah project Self-Love saya yang lain setelah project Love Yourself. I do wanna know my self and I do wanna love her.

Ada banyak perbedaan di tulisan saya ini dengan tahun lalu. Saya baru nyadar kalau tulisan saya tahun ini jauh lebih kontemplatif dan self-reflecting-nya kerasa banget dibanding tahun lalu. Tahun lalu saya lebih banyak cerita soal pengalaman-pengalaman baru saya dan sensasi yang saya rasakan dari aktivitas baru yang saya jalani. Tahun ini saya lebih banyak merenung sembari kembali mencari makna yang mungkin sudah banyak yang bias atau bahkan menghilang perlahan karena terkikis oleh waktu.

Sedikit banyak saya merasa bahwa rasa kehilangan terhadap diri saya yang dulu adalah bukti bahwa saya sedang berproses menjadi orang dewasa. Saya sering bertanya tentang hal-hal kecil dengan makna yang dalam menurut saya. Saya bertanya, apakah ini yang saya inginkan? Apalah hidup seperti ini yang saya inginkan? Apakah saya bahagia? Dan sederet pertanyaan lain. Tapi, saya tidak bisa bilang bahwa sekarang saya tidak bahagia. Ada banyak alasan bagi saya untuk bahagia sekali pun ada banyak hal juga yang jawabannya belum saya temukan. Tapi, saya bersyukur karena Allah memberikan saya kesempatan untuk tertawa di sela-sela rasa takut dan rasa khawatir yang saya rasakan. Dari sana saya tahu bahwa saya cukup bahagia dengan hidup saya sekarang, terlebih setelah melepaskan beberapa hal yang ternyata memang harus dilepaskan karena sudah waktunya.

Pada akhirnya, saya berhasil menyelesaikan project Finding ME meski dengan sederet kesulitan dan kekurangan di sana-sini. Tapi, sekali lagi saya bersyukur karena banyak hal yang bisa saya pelajari.

Finding ME is another journey for my self. I do believe that one day I will find my self and love her.

Kendari, 1 Syawal 1439 H. 15 Juni 2018.

[29] Ramadhan, See You Again

Sebulan itu gak lama ternyata. Waktu awal Ramadhan kayak masih lama. Tapi setelah pertengahan Ramadhan, sepuluh hari berlalu begitu saja.

Saya gak bisa bilang kalau Ramadhan tahun ini termasuk tahun yang berkesan. Ramadhan tahun ini saya justru sedih karena saya gak optimal selama Ramadhan. Tapi, saya tahu bahwa saya gak boleh bersedih hati terlalu lama. Saya gak mungkin terus-terusan mengasihani diri saya karena amalan saya yang mungkin gak lebih baik dari Ramadhan tahun lalu. Instead of feeling guilty and miserable, I think it’s better to fix everything in a proper way.

Saya seharusnya mengevaluasi apa yang gak saya lakukan di Ramadhan dan akan berusaha saya lakukan dalam menyambut Ramadhan selanjutnya. Sebelas bulan itu relatif. Bisa lama, bisa cepat. Tapi paling gak saya gak pengen berpisah dengan Ramadhan dengan perasaan yang sama saat saya kembali bertemu dengan Ramadhan selanjutnya—sekalipun saya gak tahu apa saya masih dikasih kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan tahun depan, but I do wanna try.

So, instead of saying goodbye, I wanna say see you again for the next Ramadhan. I wanna give the best of me and do my best to meet the next Ramadhan though I don’t know whether I can meet him or not. I just wanna try. Let’s do our best to meet Ramadhan on the next year, Dit.

Hai, Ramadhan. Tahun ini kamu meninggalkan begitu banyak pelajaran dan evaluasi untukku. Semoga tahun depan saat kita bertemu lagi, aku bisa bertemu denganmu dalam keadaan yang lebih baik dari tahun ini. Aamiin.

Untuk project nulis saya, FINDING ME, saya nyatakan berakhir dengan berakhirnya Ramadhan. Tapi, proses saya tentu akan terus berlanjut. Finding Me is still on progress. I do wanna know how much I can grow and how long I can walk my path. For my self, never forget to stay grateful for everything you have and for everything you face. You are enough. You are good for who you are. You are one of a kind ’cause Allah never create anything for nothing. Stay strong and keep going, cause you’re still growing.

Kendari, 29 Ramadhan 1439 H. 14 Juni 2019.

[28] Confession pt.2

Setelah menonton Dinner Party-nya Bangtan semalam, saya terpikir tentang banyak hal. Dulu, saya sering berpikir bahwa saya sudah terlambat. Saya sudah terlalu tua untuk memulai lagi apa yang bisa saya mulai di usia saya yang sudah menginjak usia akhir 20. Tapi, saya akhirnya menyadari bahwa saya sebenarnya belum setua itu dan saya belum terlalu terlambat. Saya masih bisa memulai lagi. Jika saya masih bingung tentang apa itu impian, passion, cita-cita dan sejenisnya, seharusnya saya tidak perlu khawatir. Sejak awal saya tahu apa yang sebenarnya saya kejar. Sejak awal saya tidak mengejar pengakuan. Saya tidak mengejar harta. Saya tidak mengejar popularitas. Sejak awal saya mengejar satu hal. Saya ingin berdedikasi untuk orang lain dengan apa yang saya lakukan. Jadi, sebenarnya tidak masalah apa pun itu, asal saya bisa berdedikasi, menginspirasi dan bermanfaat bagi orang lain, itu sudah cukup bagi saya. Itulah moral value yang ingin saya raih dalam hidup saya dan hal yang senantiasa saya jaga hingga detik ini.

Saya memang merasa takut. Saya juga khawatir dengan banyak hal. Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi, wajar saya merasakan ketakutan karena sebenarnya apa yang saya kejar itu adalah sesuatu yang sulit untuk diwujudkan. Saya pernah gagal dan saya harus bekerja keras agar kali ini saya bisa berhasil. Meski kerja keras saja tidak cukup, tapi saya tahu bahwa saya harus bekerja keras dan melakukan yang terbaik yang saya bisa. Saya sadar bahwa saya tidak bisa menyenangkan hati semua orang dan mewujudkan ekspektasi semua orang. Saya hanyalah manusia biasa yang punya banyak kekurangan. Jadi, saya harus terus belajar untuk bisa menjadi lebih baik. Lagipula, sebenarnya saya tidak sendiri untuk mewujudkan hal yang saya kejar itu. Saya memiliki teman-teman di luar sana yang juga berusaha seperti saya. Jika dulu saya menganggap bahwa apa yang saya lakukan itu seperti perlombaan, kali ini saya ingin berhenti. Saya ingin berhenti berlomba dengan siapa pun. Semua orang bekerja keras, tidak hanya saya. Jadi, semua orang berhak untuk diapresiasi dan mendapatkan reward atas kerja kerasnya.

Saya tidak ingin lagi mengurung diri saya dalam penjara rasa bersalah karena kegagalan dan karena saya tidak melakukan yang terbaik di masa lalu. Saya ingin melepaskan apa pun yang hari ini masih menahan langkah saya kemudian membuat saya berhenti pada satu tempat di masa lalu. Saya ingin memaafkan diri saya di masa lalu. Saya ingin merelakan semua yang tidak akan pernah bisa saya ubah. Saya ingin melepaskan semua kekhawatiran, rasa takut dan kesedihan yang masih saya simpan hingga detik ini. Saya ingin bisa bernafas lebih lega detik ini. Untuk itu, saya harus melepaskan apa yang harus dilepaskan, termasuk hari-hari dimana saya membenci diri saya sendiri.

Saya ingin menyadarkan diri saya bahwa saya masih memiliki kesempatan untuk melakukan yang terbaik saat ini dan di masa depan. Saya hanya perlu jujur pada diri saya sendiri dan menjadi diri saya sendiri. Saya tidak perlu lagi membentangkan ekspektasi dengan standar yang dibuat orang lain untuk mengukur diri saya sendiri. Saya tahu tentang diri saya sendiri. Saya tahu apa yang saya inginkan dan apa yang saya kejar dalam hidup saya. Saya tidak perlu lagi berlari untuk sesuatu yang sia-sia. Saya tidak perlu lagi mengikuti perlombaan yang saya tahu tidak akan pernah saya menangkan. Saya hanya ingin menjadi versi terbaik dari diri saya sendiri. Saya ingin menginspirasi orang lain dengan apa yang saya lakukan. Saya ingin orang lain bisa mendapatkan kebaikan dari apa yang saya lakukan. Saya ingin mewarnai dunia dengan warna saya sendiri dan saya ingin menjadi bagian dari generasi yang mewarnai dunia hari ini. Lebih dari itu, saya ingin apa yang saya lakukan selama di dunia adalah sesuatu yang bisa saya persembahkan di hadapan Allah kelak di hari penghisaban. Hari dimana saya akan berhadapan dengan pengadilan Allah.

Saya pernah melakukan kesalahan. Saya sering sekali melakukan kesalahan. Tapi, saya sadar bahwa kasih sayang Allah sangat luas melampaui segala kesalahan saya. Allah sangat menyayangi saya, maka Allah ingin saya bisa memaafkan diri saya sendiri dan melihat kasih sayangnya yang tidak bertepi atas makhluk-Nya, termasuk kepada saya.

Hari ini saya melakukan apa yang bisa dan apa yang harus saya lakukan. Suatu saat, saat saya tua saya mungkin hanya akan melakukan apa yang saya sukai. Saya tidak memiliki kesempatan sebesar dan seluas sekarang untuk mencoba banyak hal dan melakukan apa yang bisa saya lakukan. Jadi, saya ingin mengecap rasa kehidupan sekali lagi. Tidak hanya mengecap yang manis dan menafikkan selainnya. Tapi, semua rasa itu ingin saya ecap kembali agar saya tahu bahwa kehidupan memiliki warnanya sendiri dan semuanya indah sekali pun itu pahit atau menyakitkan.

Jika semua orang mengejar kebahagiaan, maka saya berharap kebahagiaan saya ada pada apa yang diridhoi oleh Allah.

Kendari , 28 Ramadhan 1439 H. 13 Juni 2018.

[27] Confession

Mungkin saya terlalu tua untuk menjadi seorang fangirl. Dan terlalu memalukan juga hehe. Tapi, ada satu titik dimana saya tidak menyesal menjadi seorang fangirl—yakni saat saya tahu bahwa saya melihat dengan sudut pandang yang berbeda, ke orang yang berbeda tentunya—meski pun saya sadar bahwa saya sebenarnya bukan lagi seorang fangirl labil seperti waktu saya masih remaja dulu. Sekarang saya menjadi seorang fangirl dalam sisi yang lebih dewasa. Ya, sebut saja begitu. Ini bukan pembelaan. Ini hanya sebuah pengakuan kecil.

Dulu saya hanyalah seorang remaja labil yang memiliki banyak kebingungan tentang hidup saya. Saya hanyalah seorang remaja labil yang melarikan diri dari kerasnya kehidupan saya dan lemahnya diri saya sendiri karena saya tidak berani menghadapi kerasnya hidup saya itu. Saya melarikan diri ke musik dan KPOP adalah pelarian saya. Sejak dulu saya suka hip hop dan menurut saya, KPop bisa memuaskan pendengaran saya, termasuk dengan unsur hip-hopnya. Namun, seiring berjalannya waktu, saya tidak lagi menyukai KPop sebagaimana saya di masa remaja. Banyak hal yang terjadi dan itu membuat saya berpikir bahwa hidup saya jauh lebih penting daripada sekedar mengurusi grup idola favorit saya, menonton banyak variety show dan sejenisnya kemudian berteriak tidak jelas seperti remaja belasan. Saya sendiri malu dengan umur saya. Tapi, saya tetaplah seorang penikmat musik. Seiring dengan berjalannya waktu, musik menjadi sarana penyembuh tersendiri bagi saya, khususnya musik dengan lirik yang comforting dan reflektif. Lama sekali saya tidak mendengarkan lirik yang seperti itu sampai saya mengenal sebuah grup beranggotakan tujuh orang bernama Bangtan Sonyeondan atau sekarang yang lebih populer dikenal dengan nama BTS.

Biasanya selera saya tidak sama dengan orang kebanyakan. Awal menyukai BTS karena saya berpikir mereka hip hop sekali. Namun, setelah mendengar lagu-lagu mereka, semakin lama dan semakin lama. Kemudian saya melihat bagaimana mereka bertumbuh sebagai musisi—tidak hanya sebagai boyband, bagaimana mereka berdedikasi dan mencintai apa yang mereka kerjakan serta bagaimana mereka menyikapi setiap kesulitan yang mereka hadapi dalam rangka mewujudkan impian dan cita-cita mereka, itu membuat saya belajar. Dan semakin lama melihat mereka, semakin banyak yang saya pelajari dari mereka. Tanpa sadar, saya seperti ikut mendewasa bersama mereka, bukan hanya karena usia saya dengan mereka tidak terpaut begitu jauh, tapi juga karena apa yang mereka sampaikan lewat musik dan lagu mereka itu sangat jujur serta mewakili apa yang saya rasakan. Saya banyak me-recall kembali kenangan saya di awal masa remaja, masa kecil bahkan awal masa dewasa yang sebelumnya enggan untuk saya ingat saking menyakitkannya.

Saya kagum bagaimana mereka bisa menyampaikan lirik yang begitu tulus dalam lagu mereka. Saya kagum bagaimana mereka bekerja begitu keras dan konsisten sekali pun mereka berhadapan dengan kenyataan yang seolah tidak mungkin. Dulu, mereka hanya tujuh remaja dari pelosok Korea Selatan yang merantau demi mengejar impian mereka untuk bermusik. Dulu, semua orang meragukan mereka dan mereka hanya memiliki satu sama lain serta saling percaya bahwa suatu saat mereka bisa bersinar dengan jalan mereka sendiri.

Terlalu banyak yang bisa saya katakan tentang mereka. Dari mereka saya belajar melihat dunia dengan sudut pandang yang berbeda. Dari mereka saya kembali melihat banyak warna. Saya menemukan arti lain dari kegagalan, arti lain tentang patah hati, arti lain tentang persahabatan, arti lain dari mencintai dan saya belajar bagaimana saya harus menyikapi diri saya sendiri. Saya terkejut melihat diri saya mendewasa bersama lagu-lagu mereka yang menemani masa-masa depresi saya. Saya terkejut mendapati kenyataan bahwa di sisi saya ada orang-orang yang saya jaga seperti saya melihat mereka menjaga satu sama lain. Saya terkejut ketika saya tahu bahwa saya mulai menghargai diri dan hidup saya lebih dari sebelumnya. Saya terkejut bagaimana lagu mereka memberikan comforting words tersendiri bagi saya. Dan itu membuat saya berterima kasih pada mereka dan juga pada Allah yang saya tidak tahu bagaimana lagi harus berterima kasih kepada-Nya.

Saya tahu bahwa tidak semua orang di luar sana menyetujui sikap saya. Mungkin, ada yang berpikir bahwa saya terlalu berlebihan dan terlalu melankolis. Tapi saya tahu bahwa yang menjadi penggemar resmi Bangtan, semua melakukannya dengan alasan yang sama. Mereka terinspirasi dari lagu Bangtan yang mencerminkan kisah dan refleksi mereka dari perjalanan hidup yang mereka alami. Saya setuju bahwa karya yang jujur akan mendapatkan penghargaan dengan caranya sendiri.

Saya memang tidak selalu setuju dengan seluruh bentuk fangirling. Namun, jika itu dilakukan dengan cara yang positif, saya pikir kita semua bisa belajar—karena saya tahu tidak semua yang ada dari mereka bisa diambil begitu saja tanpa disaring terlebih dahulu dengan filter yang benar. Dan untuk kondisi saya, saya bersyukur karena saya masih bisa menyaring apa yang bisa saya pelajari dari Bangtan—setidaknya sampai sejauh ini.

Terima kasih, Bangtan. Terima kasih sudah membuat saya belajar melihat dunia dari sudut pandang dan kacamata yang berbeda. Terima kasih sudah membuat saya belajar menghargai hidup dan diri saya sendiri lebih dari sebelumnya. All of you are my inspiration. I hope you can keep inspiring many people with your music and songs.

Kendari, 27 Ramadhan 1439 H. 12 Juni 2018.

[26] Happiness We Deserve

Seorang teman lama pernah berpesan pada saya. You deserve happiness. You deserve to be happy. Saat itu saya bertanya-tanya, apakah saya pantas bahagia? Apakah setelah saya melakukan begitu banyak kesalahan di masa lalu, saya masih bisa menemukan sesuatu yang bernama kebahagiaan? Apakah sekarang saya bahagia? Kalau iya, bagaimana saya tahu bahwa saya bahagia? Padahal, teman saya yang lain selalu bilang bahwa bahagia itu sederhana. Jika sesederhana itu, kenapa bagi saya justru rumit, ya?

Beberapa waktu belakangan ini saya menyukai sebuah lagu yang berjudul Paradise. Surga, dalam banyak bahasa memiliki banyak diksi. Dalam bahasa Inggris misalnya, surga biasa disebut Paradise atau Heaven. Dalam bahasa Arab, surga juga memiliki banyak nama. Jannah dan Raudhah—misalnya, yang semuanya ada di dalam Al Qu’ran. Dalam Bahasa Korea ternyata Surga juga memiliki beberapa diksi, seperti Jeon-guk (ì „ê”­) dan Nak-won (낙원)—lagu yang saya suka judulnya Nak-won. Dalam bahasa Jepang juga Surga disebut Ten-goku (ć€©ć›œ), dalam kanji yang lain disebut Rakuten (æ„œć€©). Ten-goku terdiri dari dua kanji, yaitu kanji langit (怩) dan negeri (ć›œ). Surga bisa diartikan negeri langit, sedangkan rakuten terdiri dari kanji raku (æ„œ) yang berarti kebahagiaan dan ten (怩) yang berarti langit. Rakuten berarti kebahagiaan yang ada di langit. Itulah surga dalam definisi orang Jepang—mungkin.

Balik lagi ke lagu Nak-Won (Paradise) tadi. Menurut saya, lagu itu berpesan bahwa kebahagiaan itu bukanlah terletak pada apa yang dikejar, karena seringkali saat mengejar sesuatu justru kita merasa terbebani dan tersiksa sendiri. Seringkali kita mengejar sesuatu yang bahkan sia-sia. Padahal, bisa jadi kebahagiaan itu ada pada proses yang kita lewati. Dunia memang tidak seindah yang dijanjikan. Tapi, kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang selalu diukur dengan materi semata. Saat kita menikmati menjadi diri kita sendiri dan melakukan sesuatu dalam hidup kita, masa itulah yang kita sebut sebagai kebahagiaan dan mungkin begitulah rasanya saat mengecap surga. Kita tidak memiliki perasaan lain selain kebahagiaan. Surga ada di penghujung setiap jerih payah. Saat kita tahu bahwa jerih payah kita terbayarkan maka di sanalah kebahagiaan itu ada. Bagian yang paling saya ingat di lagu itu adalah:

Tidak apa-apa berhenti. Tidak perlu berlari untuk alasan yang tidak kau ketahui. Tidak apa-apa tidak punya mimpi jika bagimu ada masa dimana kau merasa bahagia. Tidak apa-apa berhenti. Tidak perlu berlari untuk alasan yang tidak kau ketahui. Tidak apa-apa tidak punya mimpi, karena seluruh udara yang kau hirup adalah surga. Jadi, tidak perlu berlari untuk sesuatu yang sia-sia. Sudahi saja perlombaan bodoh ini. Tidak perlu berlari untuk sesuatu yang sia-sia. Kau tidak perlu bermimpi seperti orang lain. Tidak perlu berlari untuk sesuatu yang sia-sia, karena semua kata yang membuatmu menjadi dirimu sendiri adalah surga.

Potongan lirik di atas yang membuat saya sadar bahwa selama ini saya mungkin saja mengejar sesuatu yang sia-sia. Saya berlomba untuk sesuatu yang saya tahu bahwa saya tidak akan pernah memenangkannya. Pada akhirnya saya sadar bahwa kebahagiaan yang pantas bagi diri saya sendiri adalah ketika saya tahu saya bisa menjadi diri saya sendiri. Dan jika boleh saya menambahkan, kebahagiaan hakiki adalah surga itu sendiri. Tempat dimana segala jerih payah selama di dunia akhirnya terbayarkan dengan satu perasaan yang tidak bisa dipungkiri, yakni kebahagiaan. Maka sudah seharusnya standar kebahagiaan seorang Muslim adalah ridho Allah karena di sanalah surga itu berada—tempat yang menjadi impian seluruh manusia.

Kendari, 26 Ramadhan 1439 H. 11 Juni 2018.

[25] Catatan Hari ke-25

Tema Ramadhan Writing Challenge saya tahun ini adalah Finding Me. Perjalanan saya membuat saya terpikir untuk menulis dengan tema ini dalam rangka meneruskan Ramadhan Writing Challenge yang sudah saya lakukan sejak tahun lalu. Saya tahu, menemukan diri saya sendiri tidak cukup hanya dalam waktu satu bulan. Saya pikir, seumur hidup pun saya mungkin belum tentu mampu untuk benar-benar menemukan diri saya dan mengerti tentang diri saya sendiri. Saya—dan mungkin kita semua yang berjenis manusia adalah makhluk paling complicated di jagad raya. Jadi, tidak mungkin untuk bisa mengerti diri kita sendiri dalam waktu singkat. Tapi saya anggap ini sebagai usaha saya untuk bisa lebih mengenal diri saya dalam rangka mencintai diri saya sendiri—sebuah project seumur hidup yang saya dedikasikan untuk diri saya sendiri—Love Yourself.

Seperti yang sudah saya tuliskan di prolog bahwa tulisan ini adalah cerita tentang perjalanan untuk memaafkan, perjalanan untuk menyembuhkan, perjalanan untuk belajar, perjalanan untuk mencintai, perjalanan untuk membuat sebuah ikatan baru, perjalanan untuk memulai sesuatu yang baru dan perjalanan untuk melepaskan. Bagi saya, menulis adalah aktivitas privat yang tidak akan sembarangan saya bagi. Saya memang tipe orang yang sangat tertutup dan private sekali pun dari luar tampaknya tidak begitu. Maka, saya akan benar-benar berpikir untuk memutuskan apakah saya akan berbagi isi pikiran saya melalui tulisan untuk khalayak ataukah saya simpan sendiri. Mungkin itulah tantangan saya dalam berkarya di dunia kreatif. Saya terlalu tertutup dan tidak berani menghadapi feedback dari dunia luar. Tapi, sejak Ramadhan Writing Challenge tahun lalu, saya jadi lebih berani untuk terbuka dengan isi pikiran yang awalnya hanya saya peruntukkan untuk diri saya sendiri. Tahun ini pun tema tulisan saya masihlah berbentuk privat—lebih saya tujukan untuk diri saya sendiri—meski pun jauh di lubuk hati saya, tulisan ini bisa mewakili perasaan banyak orang haha tapi sepertinya saya terlalu berharap.

Bagi saya, Finding Me seperti kesempatan lain untuk mengenal diri saya sendiri. Jika di tema sebelumnya saya mengambil judul Retreat—dalam rangka memaafkan diri saya sendiri, maka Finding Me adalah sekuel dari Retreat dimana saya sudah mulai bisa memaafkan diri saya sendiri dan saya memberi kesempatan bagi diri saya untuk lebih terbuka. Saya ingin mengenal diri saya. Saya ingin bisa mencintai diri saya dan untuk itu saya harus menemukan diri saya karena entah sejak kapan saya merasa bahwa saya telah kehilangan diri saya sendiri karena saya terjebak terlalu jauh dengan berbagai rasa yang palsu. Jika dulu saya selalu mengejar rasa yang melibatkan orang lain di dalamnya, sekarang saya tahu bahwa cinta itu selalu dimulai dari saya. Saya tidak akan bisa mencintai orang lain dengan benar jika saya belum bisa mencintai diri saya dengan cara yang benar pula. Maka, Finding Me adalah awal yang baru bagi saya untuk bisa mencintai diri saya sendiri agar saya tidak lagi terjatuh dalam cinta yang salah seperti yang dulu pernah saya lakukan di masa lalu.

Untuk saya yang sudah bertahan sampai hari kedua puluh lima. Terima kasih sudah bertahan selama itu. Tetaplah menulis.

Kendari, 25 Ramadhan 1439 H. 10 Juni 2018.

[24] Segores Kenangan

Ramadhan mengingatkan saya pada banyak hal, khususnya hal-hal yang dulu saya lewati saat masih berada di perantauan. Kalau diingat-ingat lagi, rasanya seperti mimpi. Saya pernah menghabiskan tujuh kali Ramadhan di perantauan. Begitu banyak wajah yang akhirnya benar-benar tinggal kenangan, pun dengan selaksa peristiwa yang mewarnai Ramadhan saya kala itu. Saya juga berani mengatakan bahwa tidak satu pun dari Ramadhan itu yang tidak berkesan. Menghabiskan Ramadhan bersama mereka adalah salah satu hal yang saya syukuri selama hidup saya. Mengukir senyum dan tawa bersama mereka juga adalah hal yang tidak pernah ingin saya lupakan seumur hidup saya. Mereka adalah orang-orang yang akan selalu saya anggap sebagai keluarga saya, sekali pun sekarang kami sudah jauh terpisah.

Saat membaca hasil personality test saya, di artikelnya dituliskan bahwa menjelang usia 30, fungsi kognitif saya berupa introvert sensing akan meningkat frekuensinya. Mungkin, itulah sebabnya saya jadi lebih thoughtful dan lebih sering merenung. Saya mengingat banyak hal yang sudah terjadi di masa lalu. Artikelnya bilang sih, itu namanya balancing. Jadi, saya tidak lagi sekedar mengandalkan intuisi saya yang sering membawa saya menjelajah kemana-mana, tapi saya juga jadi lebih berhati-hati dalam bertindak. Selain itu, saya akhirnya menjadi lebih bijak dalam mengolah perasaan dan emosi saya meski pun saya tahu saya masih memiliki proses yang panjang untuk itu.

Kenangan mengajarkan saya tentang banyak hal. Semakin ke sini, saya semakin sering merenungi kenangan yang sudah lewat. Terkadang saya menertawakan diri saya di masa lalu—betapa tidak dewasanya saya kala itu. Terkadang, saya menangis karena menyesali banyak hal yang seharusnya bisa saya lakukan tapi tidak saya lakukan. Saya menangis karena saya tidak melakukan yang terbaik yang saya bisa. Tapi, lebih dari itu semua, saya merasa lega. Saya merasa lega karena sekarang kenangan menyakitkan pun ternyata bisa memberikan kelegaan bagi saya. Saya lega karena saya akhirnya bisa belajar dari kenangan-kenangan itu. Saya tidak lagi terluka saat mengingatnya—justru saya terinspirasi dari kenangan menyakitkan yang pernah saya alami di masa lalu. Ada banyak kenangan memalukan yang tidak jarang membuat saya tertawa. Tapi, saya tahu bahwa sudah cukup dewasa untuk menyikapinya. Tidak ada lagi rasa sakit. Tidak ada lagi tangis pilu dan ratapan kekanakan yang dulu sering saya lakukan.

Pada akhirnya, segores kenangan itulah yang mendewasakan saya. Segores kenangan yang membuat saya bertahan dan berdiri di titik dimana saya sekarang berdiri. Segores kenangan yang worth it—karena kenangan paling menyakitkan sekali pun tetap bisa menjadi inspirasi jika kita melihatnya dari sudut pandang yang berbeda dan menyikapinya dengan cara yang berbeda.

Kendari, 24 Ramadhan 1439 H. 9 Juni 2018.

[23] The Weak Hero

Bagaimana jika di tengah-tengah dunia yang menakutkan, kamu ternyata adalah seorang yang terpilih? Saat kamu sendiri tidak percaya akan hal-hal tentang pahlawan namun ternyata sosok itu ada di dalam dirimu? Mungkin kamu akan tertawa. Ya, kamu menertawakan kelemahanmu dan berpikir, bagaimana bisa ada pahlawan yang lemah? The hero supposed to have superpower, right? You’re not even one of them and that has to be impossible thing that ever exist if you’re one of them.

Tapi, percaya atau tidak—di dunia ini pahlawan yang lemah itu ada. Mungkin seperti cerita Anpanman—salah satu superhero yang terbuat dari roti. Dia tidak seperti Batman, Superman, Spiderman, X-Men dan sejenisnya yang rata-rata memiliki superpower. Dia hanyalah pahlawan yang terbuat dari roti yang akan langsung meleleh kalau kena air. Lucu? Iya. Tapi, dia pahlawan dan anak-anak menyukainya. Itu Anpanman. Apakah kamu percaya kalau generasi kita ini sebenarnya seperti Anpanman? Kita tidak memiliki kekuatan super. Kita hanyalah kita, generasi akhir zaman dengan segala kelemahan dan keterbatasan kita. Tapi, ternyata dunia membutuhkan keberadaan kita lebih dari yang bisa kita bayangkan. Saat kita sendiri menyerah dengan masa muda kita yang mengecewakan, saat kita tersesat di dalam labirin tak berujung, saat kita berlari dan terus berlari tanpa impian, saat kita bahkan sulit bernafas di tengah pertandingan yang kita tahu takkan pernah kita menangkan, saat kita benar-benar membenci diri kita sendiri yang penuh kelemahan, saat itu ternyata kita adalah harapan.

Sewaktu kecil, kita tentu pernah bermimpi menjadi superhero. Bermimpi memiliki kekuatan super dan membantu banyak orang yang kesusahan di luar sana dengan kebanggaan tersendiri saat kita bisa mengusir orang jahat. Namun, saat kita tumbuh dan menjadi dewasa kita sadar bahwa superhero itu sudah lenyap. Tapi, sadarkah kita bahwa saat kita bisa mengandalkan diri kita sendiri, saat itulah sebenarnya kita menjadi pahlawan—setidaknya untuk diri kita. Saat kita berani menatap dunia dengan sebuah keyakinan—meski dengan rasa takut dan kekhawatiran—saat itulah kita sedang membangunkan pahlawan dalam diri kita. Dan saat kita menerima kelemahan kita kemudian terus belajar menjadi versi terbaik dari diri kita untuk menginspirasi orang-orang di luar sana, saat itu kita adalah pahlawan.

Kita memang lemah. Dunia terlalu keras menghempas kita hingga kita selalu terjatuh saat mencoba berdiri dan menanjak lebih tinggi. Tapi, percayalah bahwa kita akan selalu bisa menjadi pahlawan selagi kita tidak menyerah untuk melangkah meski harus terjatuh ribuan kali, meski harus melakukan kesalahan jutaan kali—karena pahlawan tidak akan pernah ada tanpa rasa sakit dan luka yang tertoreh di sana-sini.

Selamat menjadi pahlawan di battle-field kalian masing-masing. The future is waiting for us.

Kendari, 23 Ramadhan 1439 H. 8 Juni 2018.