[4] Hal yang Sering Terlewatkan

1544298Fokus itu cuma ada satu. Saya setuju. Dalam satu waktu hanya ada satu hal yang bisa difokuskan. Namun, bukan tidak mungkin untuk membagi fokus. Hanya saja, persentasenya yang berbeda antara satu dengan lainnya dan itu biasa disebut dengan prioritas.

Dalam proses kehidupan, hal-hal kecil namun bermakna seringkali terlewat. Entah karena kita keseringan mengejar sesuatu yang besar atau seperti apa. Namun, bukankah dari hal-hal kecil itu kita bisa meraih sesuatu yang besar? Seperti itulah yang kulihat dari diriku.

Selama beberapa waktu saya mencari dan bertanya-tanya tentang apa yang sudah berubah dari diri saya. Apa yang sudah berbeda dari diri saya yang sekarang dengan diri saya yang sebelumnya. Saya begitu sibuk mencari perubahan besar yang terjadi pada diri saya. Saya lupa bahwa sebenarnya saya berubah dengan akumulasi perubahan-perubahan kecil selama beberapa tahun sejak saya mulai masuk universitas. Dan sekarang saya benar-benar merasakannya. Hal-hal kecil yang sering saya lewatkan, bahwa tahun-tahun yang telah saya lewati memberi banyak pelajaran dan membentuk pola pikir serta jiwa saya hingga saya jadi seperti sekarang. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang mungkin tanpa sadar membentuk diri saya. Kegagalan-kegagalan yang saya usahakan keberhasilannya. Kelemahan-kelemahan yang saya coba tuk ubah jadi kekuatan. Keterbatasan-keterbatasan yang membuat saya belajar untuk ikhlas, bersyukur dan sabar agar saya bisa hidup dengan tenang dan bahagia.

Seorang teman pernah mengatakan bahwa kita memiliki kemampuan bertahan hidup yang luar biasa dan itu saya merasakannya setelah kembali ke rumah. Hidup dalam keterbatasan dan Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, saya bisa tetap menikmatinya. Bahkan saya bisa bersyukur dari hal-hal kecil dan penuh keterbatasan di rumah. Pembinaan selama di Malang telah membantu saya menjadi seperti sekarang. Dan masih teringat jelas keinginan saya dalam suatu malam saat menjelang Ramadhan. saya ingin belajar bahagia. Dan hal itu dimulai saat saya benar-benar menyerah pada Allah. Di sanalah Allah mulai mengajari saya dengan ujian yang saya tahu itu berat sekali bagi diri saya sendiri. Ujian kesabaran.

Jika dulu saya bersusah payah membuktikan kepada orang-orang dan adik-adik di sana bahwa saya begini dan begitu, sekarang saya melakukan semuanya semata karena ini bagian dari pengajaran Allah untuk saya. Di sini saya harus super mandiri. Saya harus benar-benar belajar bersabar entah itu sekedar menahan diri atau pun bertahan dalam kondisi dimana saya dibenturkan dengan realita. Semua karena guru-guru saya. Merekalah yang telah mendidik saya menjadi seperti sekarang.

Saya tidak bisa mengatakan bahwa inilah yang terbaik dari saya. Saya hanya bisa mengatakan saya sudah lebih baik dari yang dulu tapi saya masih perlu meningkatkan lagi kapasitas diri saya. Saya harus melatih diriku untuk meminimalisir kekuranganku yang dapat menghambat laju dakwah. Saya juga harus meningkatkan potensi  sayauntuk mempercepat laju dakwah. Di sisi lain, saya harus tetap peduli pada kehidupan pribadi, cita-cita dan masa depan saya. Semua demi meraih tiket menuju Surga-Nya.

Saya pernah jatuh. Saya berkali-kali gagal. Saya pernah depresi. Saya pernah nyaris putus asa. Kesabaran saya selalu teruji setiap waktu. Saya sudah menyerah pada keadaan dan parahnya saya menyerah pada diri saya sendiri. Saya membenci diri saya, saya membenci hidup saya. Saya juga tak punya banyak waktu untuk jeda dan merenung bersama diri sendiri untuk memutuskan kemana langkah yang akan diambil. Semua kabur. Saya tenggelam dalam kebingungan dan ketidakmampuan untuk peka dalam bertindak. Namun, saya tetap menjalaninya sebagai bagian dari kehidupan sampai Allah menunjukkan kebesaran-Nya. Allah sekali lagi menunjukkan kepada saya bahwa segalanya mudah bagi-Nya. Segalanya mungkin bagi-Nya. Apalagi setelah saya benar-benar meminta untuk belajar bahagia dari-Nya.

Allah selalu ada untuk saya. Allah mendengar semuanya. Semua kemarahan, semua kekecewaan, semua kebencian, semua kesedihan, semua harapan dan tidak melewatkan satu pun dari itu semua. Saat saya menahan semua perasaan saya, Allah tahu bahwa saya berusaha keras untuk itu. Allah tahu saya benar-benar tidak bermaksud menjadi orang jahat. Allah tahu saya selalu membutuhkan-Nya. Allah tahu saya selalu berharap pada-Nya. Dan sekarang saya mulai merasakan semuanya. Saya merasa lebih tenang dan bahagia.

Perjalanan saya masih panjang. Saya harus terus belajar dan berusaha melatih diri saya untuk menjadi lebih baik. Agar saya bahagia dan kembali pada Allah dalam keadaan bahagia. Saya juga akan berdoa untuk kebahagiaan mereka. Semua orang yang pernah hadir dalam hidup saya.

Kendari, 24 Dzulqa’dah 1437 H. 27 Agustus 2016.

@09:13 AM.

[3] Conquer the World with Iman

genggam-bara-apiRasulullah SAW pernah berkata kepada para pembesar Arab (kalimatnya kurang lebih seperti ini), “maukah kalian kuberitahu sebuah kalimat yang dengannya kalian dapat menguasai dunia? Ucapkanlah Laa ilaaha illa l lah, Muhammadu r rasulullah”. Kalimat sederhana yang memiliki kekuatan luar biasa. Ketika kau telah mendapatkan persetujuan dari Sang Penguasa Semesta dan Nabi-Nya, apalagi yang kau butuhkan? I think there’s nothing you need anymore, because you’ve got everything you need.

Kekuatan apa yang tersembunyi di balik kalimat “keramat” tersebut? Sebuah kekuatan tak tertandingi meski ada dua ide lain yang hendak menyainginya. Kekuatan ideologi. Kalimat syahadat bukan kalimat biasa. Kalimat syahadat memiliki makna ideologis yang sangat dalam dan mendasar.Sayangnya, kaum Muslimin kekinian sangat jarang yang mengetahuinya.

Kalau saja mereka mengetahui kenapa muncul korporasi-korporasi besar yang mendunia dan ternyata mereka juga adalah alat dari permainan para korporat-korporat tersebut, apa yang akan mereka lakukan? Begitu licik dan bejatnya para korporat yang ingin menguasai dunia dengan mencengkramkan ideologi Kapitalisme yang berbasis pada Sekulerisme. Mereka menghalalkan segala cara dan menjadikan segala sarana dalam seluruh aspek kehidupan sebagai jalan mereka untuk menguasai dunia dan mengeruk sebesar-besarnya kekayaan dunia yang ada hanya untuk diri mereka sendiri. Mereka menggunakan strategi dari seluruh aspek kehidupan, ekonomi, politik, pendidikan, teknologi, media, sosial-budaya dan semua yang memungkinkan mereka untuk dapat meraih keuntungan dan memasarkan ideologinya agar diaminkan oleh seluruh dunia termasuk kaum Muslimin. Kenapa? Karena hampir seluruh SDA dan SDM dunia berada di negeri-negeri kaum Muslimin. Mereka juga yang menyeret dan memecah-belah seluruh negeri Islam untuk kepentingan mereka. JAHAT!

Ini tidak bisa dibiarkan. Kaum Muslimin harus kembali sadar akan kekuatan di balik kalimat “sakti” yang selalu mereka ucapkan saat mereka shalat.Kaum Muslimin tidak bisa tertipu selamanya dengan jebakan ideologi Kapitalisme. Hari ini kaum Muslimin hanya mengandalkan kekuatan individu untuk bertahan hidup dalam dunia yang keras dan penuh persaingan ini. Dengan kekuatan individu mungkin kita bisa menjadi orang besar tapi kita tidak bisa menguasai dunia. Individu hanya akan membuat kita sampai pada pencapaian yang tidak membuat kita puas. Namun, kekuatan ideologi akan membuat kita menjadi lebih dari itu.

Seorang yang memiliki ideologi takkan mati, meski kenyataan membunuhnya berkali-kali. Seorang yang memiliki kekuataan ideologi akan selalu tahan terhadap ujian apapun dalam hidupnya. Dia akan berusaha untuk mengubah semuanya sesuai dengan keyakinan (ideologi) yang ia miliki. Seorang Muslim harusnya ideologis. Menyadari tentang tujuan hidupnya dan berusaha melakukan yang terbaik demi tujuan itu. Tujuan yang sudah dijelaskan oleh Allah bahwa manusia hidup untuk beribadah kepadaNya. Ibadah itulah yang menuntut manusia terikat pada hukum-hukumNya. Di sanalah letak keridhoanNya terhadap manusia dan karena ibadah itulah manusia akan masuk ke dalam surgaNya. Seorang Muslim juga tidak akan tinggal diam dengan menggenggam ideologinya seorang diri. Dia akan menebar ideologi itu. Dia akan mengubah dunia orang lain dengan ideologinya.

Aku sudah punya teorinya. Aku punya kunci untuk mengubah duniaku. Kunci itu adalah ideologi Islam. Ideologi yang menyeluruh. Ideologi yang akan membantuku meraih apa yang kucita-citakan. Ideologi yang akan membuka banyak jalan dalam hidupku. Ideologi yang akan menuntunku menuju surga. Oleh karena itu, Islam harus menjadi segalanya bagiku. Islam harus menjadi poros hidupku. Islam harus selalu kujunjung tinggi di atas apapun. Dan aku harus menyebarkannya kepada orang-orang. Aku harus mengubah pandangan orang-orang Islam tentang Islam dan membantu orang yang belum memahami Islam untuk mengerti tentang Islam. Menyadarkan kaum Muslimin bahwa hari ini kita hidup dalam tirani ideologi Kapitalisme. Hari ini kita hidup dalam mimpi-mimpi para pemilik modal yang matre dan tamak akan materi. Sudah saatnya mengakhiri kehidupan seperti ini. Sudah saatnya menggemakan Islam ke seluruh penjuru dunia. Sudah saatnya menjadikan Islam sebagai qaidah dan qiyadah fikriyah. Ini tugasmu, Dit. Jadi, jangan pernah menyerah. Allah selalu bersamamu.

Kendari, 20 Syawal 1437 H. 25 Juli 2016. 10:55 PM.

[2] Harta Terbaik

Harta Terbaik            Infak, ayo kita infak

            Mari semua infak

            Biar lima ratus, yang penting pahala~

            Wo oh oh, oh oh oh

            Wo oh oh, oh oh oh

           

            Dengan nada lagu Kun Anta milik Khumood al Khudeer, Pak Rahmad mengkampanyekan infak kepada para siswa kelas 1, termasuk siswa kelas lain. Sebelum-sebelumnya, anak-anak emang udah infak, tapi karena lagu itu terus dinyanyikan, anak-anak jadi tambah semangat untuk infak. Alhamdulillah, infak menjadi tren tersendiri di sekolah kami sekarang.

Jauh sebelum lagu itu menjadi tren, salah seorang siswa dengan bersemangat datang pada saya dan menyodorkan harta terbaiknya. Bukan soal jumlah, namun semangat dan ketulusannya berinfak membuat saya benar-benar tertohok. Saya tahu bagaimana kesehariannya dan saya juga tahu bahwa orang tuanya tidak biasa memberinya uang sebanyak yang dibawa teman-teman kelasnya. Namun, saya bisa melihat dia juga ingin bisa mendapatkan sesuatu yang sering kami sebut saat teman-temannya berinfak, yakni pahala.

Seringkali kita menghitung segala sesuatu secara matematis. Padahal, hitungan Allah hampir tidak pernah matematis. Allah memberi kepada siapa saja yang dia kehendaki berapa pun itu dan apa pun itu. Memang Allah tak selalu memberi apa yang kita inginkan, namun pemberianNya pastilah yang kita butuhkan. Maka bersyukur dan bersabar adalah hal penting yang harus selalu kita tumbuhkan dalam diri kita. Bersyukur akan mengobati kita dari penyesalan akan masa lalu tentang apa yang tidak bisa kita dapatkan dan akan menyelamatkan kita dari kekhawatiran akan masa depan tentang apa yang belum kita miliki. Bersabar akan menguatkan keyakinan kita kepada Allah bahwa apa yang datang dari Allah adalah yang terbaik bagi kita sehingga tak ada waktu yang kita habiskan dengan meratapi dan menyesali, pun kekhawatiran dan ketakutan.

Pada akhirnya, Allah tidak melihat seberapa besar yang bisa kita berikan, tetapi seberapa besar pengorbanan yang bisa kita usahakan untuk mempersembahkan yang terbaik di hadapanNya.

Kendari, 11 Mei 2017.

@ 22:28 Wita.

[1] Writing is a Therapy

yJluwNX

Salah seorang teman lama pernah bilang ke saya, “menulislah, karena menulis itu terapi”. Saya setuju. Menulis adalah terapi. Setidaknya, saya menemukan ketenangan saat menulis. Ada rasa bahagia tersendiri yang menyelinap bahkan sebelum saya menyadarinya hingga akhirnya saya berkesimpulan bahwa menulis adalah bagian yang tidak terpisahkan dari diri saya.

Tahun lalu saya sempat depresi. Saya bahkan tidak percaya sampai saya mengalaminya sendiri. Sampai sekarang bayangan itu masih ada. Masa-masa kelam yang saya lalui sampai saya memutuskan untuk bangkit dan menyembuhkan diri. Ada masa-masa dimana saya benar-benar merasa kesulitan karena saya tidak pernah punya kekuatan lebih untuk langsung mengungkapkan apa yang saya pikirkan dan saya rasakan. Ditambah lagi saya sering bingung dengan apa yang saya rasakan. Di saat itulah menulis menjadi satu-satunya senjata saya untuk mengungkapkannya, termasuk saat saya jujur mengakui semuanya pada diri saya dan pastinya pada Allah, Dzat yang menciptakan saya.

Menulis banyak membantu saya dalam masa penyembuhan. Salah seorang teman bilang, depresi biasa bisa disembuhkan sendiri dan masa penyembuhannya berkisar antara 3-6 bulan. Sekarang, saya sudah memasuki bulan kelima masa penyembuhan. Alhamdulillah semua tidak sesulit dulu. Berkat menulis saya bisa menata lagi hati dan pikiran saya serta kembali mengevaluasi semua yang sudah terjadi. Saya bisa memulai semua kembali saat saya memberanikan diri untuk menulis lagi.

Tentu saja ini bukan hal yang membanggakan. Namun saya percaya bahwa segala sesuatu terjadi dengan sebuah alasan. Dan perlahan saya menemukan pelajaran di balik depresi yang saya alami beberapa waktu yang lalu. Jika saya tidak depresi, mungkin saya tidak akan sekuat sekarang. Mungkin saya tidak akan sebahagia sekarang. Dan mungkin saja saya tidak akan begitu menggebu-gebu untuk lebih dekat dengan Allah. Saya jadi sadar bahwa saya hanyalah seorang manusia yang lemah dan terbatas. Allah-lah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa. Depresi yang saya alami menunjukkan bahwa saya hanyalah manusia biasa yang bisa jatuh, terluka dan tersesat. Namun, saya akhirnya menyadari bahwa Allah memanggil saya kembali lewat masa itu.

Saya akan tetap menulis. Saya akan terus menulis dan saya bahagia karena saya bisa berbagi lewat apa yang saya tulis, termasuk saat saya menulis tulisan ini.

Kendari, 10 Mei 2017.

@ 21:00 Wita

[0] Metode Perubahan yang Terlupa

Perubahan adalah sebuah keniscayaan dalam hidup. Perubahan diperlukan ketika muncul kesadaran akan fakta yang rusak atau sesuatu yang berjalan tidak sesuai dengan yang seharusnya.

Saya bukan penikmat Anime. Tapi, ada beberapa Anime yang membuat saya tertarik, salah satunya Naruto. Anime Naruto sarat dengan pesan, termasuk tentang perubahan. Kalo mo diceritain detail, gak bakalan cukup berlembar-lembar karena saya suka cerita. Tapi, mungkin saya hanya akan mengambil sebagian saja. Di beberapa cerita, Naruto membahas tentang perubahan, contohnya saat Pain ingin menghentikan perang di dunia Shinobi dengan cara menghancurkan dunia lama dan mengganti dengan yang baru. Sama seperti Oda Nobunaga, salah seorang tokoh yang terkenal dalam sejarah Jepang. Dia juga ingin menyatukan Jepang dan mengakhiri perang di seluruh negeri dengan meyingkirkan orang-orang lama dan mengganti dengan orang-orang baru.

Hari ini, tidak sedikit yang mengadopsi perubahan dengan metode seperti itu. Jika bukan revolusi penuh darah, kudeta, dan sejenisnya. Manusia membenci peperangan sebagaimana mereka benci hidup dalam ketakutan dan kesengsaraan. Akhirnya, ketika ada yang menawarkan sebuah perubahan, orang-orang buru-buru menolak karena sudah takut duluan kalau-kalau ada peperangan yang akan terjadi.

Namun, ada yang terlupa. Di suatu masa seorang pemuda pernah melaksanakan sebuah metode perubahan yang jauh berbeda dengan yang pernah dilakukan manusia manapun. Pemuda itu melakukan perubahan dengan cara yang sangat manusiawi. Pemuda itu melakukan revolusi namun bukan revolusi penuh darah dan kudeta. Pemuda itu melakukan revolusi pemikiran.

Pemuda itu melakukan perubahan dengan menyadarkan manusia bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja dan butuh akan perubahan tersebut. Meski banyak pihak yang menentang, mengancam dan berlaku keras padanya, dia melakukannya tanpa henti. Lebih dari itu, dia melakukannya bukan untuk dirinya sendiri, bukan untuk kaumnya, bukan untuk bangsanya tetapi untuk seluruh manusia. Semua itu semata karena perintah Tuhannya.

Tuhannya yang memerintahkannya untuk mengubah manusia dengan mengubah pemikiran mereka, karena Tuhannya tahu bahwa manusia harus diperlakukan sebagaimana manusia. Sekalipun dunia tak percaya, dia membuktikannya.

Ya, Rasulullah Muhammad SAW. mengubah manusia dengan cara mengubah pemikirannya hingga manusia sendiri yang meminta perubahan itu. Itulah metode perubahan yang diridhoi oleh Allah, Tuhan Semesta Alam. Allah begitu menyayangi manusia, maka Allah jadikan Rasulullah sebagai contoh untuk melakukan perubahan di tengah-tengah manusia dengan cara yang memanusiakan mereka.

Maka jika hari ini ada yang mengusung lagi metode perubahan tersebut, maka percayalah itu akan berhasil karena itulah satu-satunya metode perubahan yang akan memanusiakan manusia.

Kendari, 8 Mei 2017. 21:56 WITA.

Teruntuk Para Pejuang perubahan hakiki.

Finding Mr. Right

1491302273679Entah apa yang saya pikirkan saat saya terbersit sebuah ide untuk bikin tulisan ini di suatu pagi yang lagi hectic pake banget. Setelah bolak-balik mikir dan curhat ke salah seorang teman, akhirnya saya putuskan nulis tulisan ini. Judulnya agak dramatis karena saya berharap bisa mewakili perasaan orang-orang (khususnya para muslimah) yang sedang mencari Mr. Right-nya hehehe. Special thanks untuk sahabat saya, Ajeng yang udah ngasih semangat untuk nulis ini saat saya berpikir bahwa tulisan seperti ini bukan “saya” banget, selain emang karena saya jarang bahas ginian, saya juga lebih suka membahas sesuatu yang lain (mungkin karena saya mikir bahwa hal kayak gini belum waktunya untuk saya bahas, tapi kalo lihat umur sepertinya saya udah harus serius mikirin, hehehe). Sebelum saya lanjutkan, saya mau minta maaf dulu jika dalam tulisan ini ada hal-hal yang tidak berkenan bagi para pembaca (iya kalo ada yang baca), tapi sebenarnya tulisan ini adalah terapi buat saya, daripada saya simpan sendiri, plus sebagai reminder buat diri saya sendiri kalo besok-besok mengalaminya. Dan project ini akan saya bagi dalam beberapa tulisan, so this is not the end, this just the beginning. So, get ready to talk with me within this kind of talking (apaan sih?). Ah, satu lagi, saya tidak bermaksud menggurui. Ini hanya sharing dan sekedar penyaluran inspirasi serta maklumat yang sudah saya dapatkan. Dan saya menunggu masukkan dari siapa saja yang pengen ngasih masukkan atau pun curhat hehehe.

Sebenarnya sudah lama saya menyadari bahwa atmosfer di sekitar saya berubah sejak saya memasuki usia 22 tahun. Usia young adult emang usia yang cukup bikin stress juga hehe. Pasalnya, di usia itu, saya merasa dihadapkan pada banyak emosi yang kompleks. Apalagi masa remaja saya tidak mulus sehingga bertambahlah beban saat memasuki usia young adult. Di usia ini rata-rata orang sudah menyiapkan rencana-rencananya di masa depan, seperti cita-cita, termasuk urusan cinta. Salah seorang teman yang lebih muda dari saya pernah bilang, kalo nikah umur 23 itu telat banget. Saya cuma bisa ketawa aja. Tapi emang sih, rata-rata mulai umur 20-an awal, perempuan umumnya sudah memikirkan untuk menikah dan mulai galau tentang siapa pendampingnya. Saya juga sempat memikirkannya trus setelah itu saya jadinya malah fokus ke yang lain hehehe (saya akui bahwa seorang introvert, saya salah satunya adalah orang yang amat sangat pemilih soal pendamping hidup. Bukan saja soal kriteria, tapi ada hal dalam diri saya yang bersuara lebih keras untuk benar-benar selektif terkait pendamping hidup, bahkan saat saya suka sama seseorang saya selalu nanya diri saya berkali-kali, beneran saya suka sama orang itu? Dan itulah yang bikin saya tidak begitu suka membahas urusan beginian).

Nyari pasangan hidup itu gampang-gampang susah, susah-susah gampang. Soalnya nikah itu bukan buat sehari dua hari, tapi seumur hidup. Di sini yang biasa bikin galau. Pengen nikah, gak ada calon. Ada calon tapi kurang sreg. Atau ada calon tapi ujung-ujungnya gagal. Oya, sebelum lebih jauh ngomongin soal Finding Mr. Right, saya pengen meluruskan dulu bahwa di dalam Islam tidak mengenal pacaran, tunangan dan sebagainya. Di dalam Islam adanya taaruf. Taaruf ini adalah sebuah proses dimana seorang laki-laki dan perempuan saling mengenal dengan tujuan ingin menikah. Jadi, taaruf itu bukan buat nyoba-nyoba. Kalo niat nikah, lebih baik disegerakan, kalo belum jangan main “api” (pembahasan jangan main api akan saya bahas di tulisan lain ^^). Tapi, taaruf kadang tidak berjalan sesuai harapan karena memang di dalam Islam tidak ada ikatan apapun sebelum menikah dan ini yang terkadang sulit apalagi kalo sudah terlanjur ada hati tapi ternyata gak jadi nikah, akhirnya patah hati deh. So, yang harus dipahami dari proses taaruf adalah bahwa taaruf bukan seperti pacaran atau tunangan. Taaruf hanya wasilah untuk saling kenal (namanya juga taaruf yang artinya kenalan), caranya juga bisa macam-macam, jadi gak perlu berharap banyak apalagi akhirnya jatuh cinta duluan sebelum benar-benar pasti menikah (dan harus saya akui ini emang sulit bagi sebagian besar perempuan dan mungkin saya salah satunya).

Secara pengalaman saya memang belum punya banyak pengalaman pribadi tentang beginian, tapi saya pengen berbagi ilmu yang sudah saya dapatkan berdasarkan apa yang saya simak dan apa yang saya baca dari orang-orang yang in syaa Allah trusted. Setidaknya ada beberapa hal yang harus kita pahami dalam proses pencarian menemukan Mr. Right versi kita masing-masing. Cekidot!

Konsep Jodoh

            Pemahaman tentang konsep jodoh sangatlah penting saat kita berniat untuk menikah atau berproses menuju pernikahan. Di dalam buku Risalah Khitbah disebutkan bahwa konsep jodoh sama dengan konsep rizki. Jodoh adalah ketetapan Allah (qadha), namun Allah juga menuntut kita untuk berikhtiar dalam menemukannya, sama seperti rizki. So, jangan harap jodoh datang dengan sendirinya kalo kita gak berusaha untuk menemukannya, minimal niat trus cari tahu deh langkah syar’ie dalam menemukannya. Satu-satunya langkah syar’ie adalah dengan taaruf (ini yang saya pahami karena Islam tidak mengenal istilah pacaran, TTM, HTS, dsb). Namun, sebelum memahami tentang konsep jodoh, pahami dulu tentang konsep qadha-qadar bahwa di dunia ada hal-hal yang bisa kita kuasai dan ada hal-hal yang memang tidak bisa kita kuasai. Dan perlu diingat bahwa langkah awal menuju pernikahan adalah keridhoan. Kalo sudah sama-sama ridho in syaa Allah akan menikah tapi kalo salah satu tidak ridho maka pernikahan tidak mungkin berjalan dan kalo pun berjalan akan sulit menjalaninya makanya keridhoan itu penting. Ridho gak berarti harus suka duluan lho ya, minimal ada kecenderungan satu sama lain. Saya agak sangsi untuk menyamakan ridho dengan suka karena orang bisa aja ilfeel setelah tau sisi buruk orang yang dia suka. So, ridho gak selalu berarti suka. Jadi kalo misal ada yang taaruf-nya gagal, gak selalu karena salah satu pihak gak suka, bisa jadi gak ridho karena alasan tertentu. Nah, keridhoan itu adalah perkara qadha’i. Kita gak bisa maksa seseorang untuk suka sama kita sebagaimana kita suka sama dia. Atau kalo pun sama-sama suka, kita gak bisa menjamin perasaan orang makanya kalo mau nikah pastikan udah siap lahir-batin sehingga bisa ridho terhadap qadha Allah jika prosesnya tidak berjalan lancar. Dan harus selalu diingat bahwa taaruf itu tidak menjamin jadi tidaknya dua orang untuk menikah, tetapi taaruf adalah jalan yang Allah ridhoi untuk menemukan jodoh yang tepat bagi kita (ehem, tiba-tiba berasa jadi bijak :D)

Jangan Cepat Underestimate

            Ini sebenarnya buat saya. Maksud saya underestimate di sini adalah belum juga berproses udah nolak duluan. Rasulullah SAW bersabda:

            “Jika datang kepada kalian seseorang (pria) yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka kawinkanlah dia. Jika kalian tidak melakukannya, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika hal itu (kebaikan agama dan akhlak) ada padanya?” Rasulullah SAW menjawab: “Jika datang kepada kalian seseorang (pria) yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka kawinkanlah dia.” Rasulullah SAW mengatakannya hingga tiga kali.” (HR. Tirmidzî)

Seringkali kriteria individu bikin kita mengabaikan kriteria syar’ie. Punya kriteria individu sebenarnya boleh-boleh saja biar gak asal nerima atau nolak. Tapi, bukan berarti selektif sampe segitunya. Semua orang bisa berubah, so berprasangka baiklah sama Allah. Kalo niat kita menikah karena Allah dan semata karena ingin beribadah kepada Allah, in syaa Allah, Dia akan pertemukan kita dengan orang yang memiliki niat yang sama. Mungkin ada yang sering bilang kalo perempuan baik-baik untuk laki-laki yang baik (dan ternyata tafsirnya bukan untuk perempuan kebanyakan atau laki-laki kebanyakan, ayat itu tentang fitnah terhadap Aisyah ra., istri Rasulullah SAW setelah Rasulullah SAW wafat), meski pun gak selalu begitu tetapi rata-rata begitu. Kaidah kausalitasnya begitu sih hehe. Soalnya kalo orang baik-baik pasti nyarinya yang baik-baik juga. Orang gak baik aja nyarinya yang baik-baik, apalagi orang baik, iya gak?

Siapkan Diri Sebaik Mungkin

            Ini yang seringkali terlupa saat kita (khususnya perempuan yang suka berimajinasi) udah sibuk duluan galau soal “siapa” pendamping hidupnya. Padahal, kehidupan setelah pernikahan adalah kehidupan sebenarnya bagi seorang perempuan. Setelah menikah seorang perempuan akan sempurna sebagai perempuan karena kewajiban utamanya sebagai ummun wa rabbatul bayt hanya akan terlaksana setelah dia menikah. Gak salah sih mendamba, tapi ya tetap harus realistis juga karena hidup gak seindah drama Korea (hehe nyontek iklan di tivi). Pasangan kita nantinya belum tentu seorang Prince Charming yang sempurna dari sisi mana pun. Bagaimana pun kita akan menikah dengan seorang manusia biasa yang bisa salah dan lupa. Maka, bagi perempuan, persiapan sebelum menikah harus lebih ekstra karena setelah menikah mereka akan memulai sebuah project besar dari Allah, yakni menjadi ibu bagi generasi di masa yang akan datang dan menjadi istri dari para pria hebat di mata dunia. Maka sejak dini siapkan bekal yang optimal selain siapkan diri lahir batin, khususnya tentang hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum menikah, seperti bagaimana menyelenggarakan pernikahan yang syar’ie, komunikasi dengan keluarga, khususnya orang tua dan keluarga besar, serta hal-hal yang akan menjadi kewajiban setelah menikah, seperti bagaimana kewajiban istri, bagaimana mendidik anak bahkan sampai hal terkecil seperti mengatur pengeluaran rumah tangga. Jangan pikir dengan menikah semua masalah hilang, justru masalah tambah banyak, bedanya masalahnya nanti dihadapi berdua, didiskusikan berdua, dikomunikasikan berdua yang in syaa Allah akan lebih ringan. Tapi bukan berarti para jomblo gak bisa menghadapi masalahnya sendirian. Yakinlah bahwa kalo kita masih jomblo berarti Allah masih percaya kita mampu menyelesaikan masalah kita seorang diri. Jadi inget jargon Liverpool, You Never Walk Alone. Yes, cause Allah is always with us. For awesome Jomblos out there, cheer up! 😀

           Yakinlah Pada Skenario Allah

            Salah satu bukti bahwa Pencipta benar-benar ada, yakni kehidupan yang berjalan dengan skenario tertentu. Bukti lain bahwa manusia diciptakan oleh Pencipta adalah manusia memiliki keinginan dan ambisi yang ingin diraihnya di dunia ini.

Manusia itu kompleks. Mereka memiliki potensi kehidupan yang harus dipenuhi seumur hidup mereka. Sayangnya, potensi kehidupan yang berupa naluri dan kebutuhan jasmani itu tidak selalu bisa dikendalikan dengan mudah. Potensi itu kadang bisa seperti famorgana. Mereka menipu dan membius. Semakin dikejar dan kemudian setelah didapatkan akan membuat ketagihan untuk terus memenuhi tuntutan-tuntuan mereka. Namun, manusia harus bersyukur karena Pencipta mereka, Allah SWT mengetahui hal itu. Allah mengetahui ciptaan-Nya dengan amat sangat baik. Oleh karena itu, Allah sertakan akal sebagai timbangan manusia agar manusia tidak selalu terjebak untuk mengejar potensi kehidupan mereka yang dua tadi, kebutuhan jasmani dan naluri-naluri. Kalau bahasa saya, mengejar rasa. Ya, rasa. Kenapa? Potensi-potensi tadi itu rasa. Rasa yang diinginkan setiap manusia. Rasa yang dikejar untuk dimiliki. Itu juga yang bikin manusia punya sifat tamak, pendendam, obsesif, dan sebagainya.

Kadang, hidup tidak berjalan sesuai dengan yang kita inginkan, termasuk saat menyukai seseorang atau sedang menjalani proses dengan seseorang. Maka, penting sekali untuk punya ilmu tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya menghadapi kehidupan. Soal cinta kayaknya sederhana, tapi bagi sebagian orang tidak begitu. Masing-masing orang punya titik kelemahan. Ada yang diuji dengan keegoisan, ada pula dengan perkara seperti ini. Saya tidak bisa menyalahkan juga dan tidak bisa langsung men-judge bahwa orang-orang yang patah hati adalah orang-orang yang lemah karena pada kenyataannya semua orang punya titik kelemahan yang berbeda-beda dan di sanalah Allah menguji mereka. Saya beberapa kali diuji dengan seperti itu. Gak gagal taaruf sih, semacam bertepuk sebelah tangan gitulah. Tapi akhirnya saya belajar banyak dari sana, termasuk soal skenario Allah. Bagaimana pun juga jodoh adalah ketetapan Allah jadi pasti Allah akan pilihkan yang terbaik selagi kita yakin pada-Nya. Kegagalan bukan akhir dari segalanya, tetapi justru awal yang baru bagi sesuatu yang baik di masa depan. So, bersabarlah. Mengutip dari Ustadzah Zulia Ilmawati, sabar mungkin tidak akan langsung menyelesaikan masalah kita, tetapi dengan bersabar kita akan lebih kuat dan mampu menghadapi sebuah masalah. Satu lagi, bukan karena karena kita sholeh atau sholehah semata trus kita dapat jodoh yang sholeh atau sholehah juga, tapi karena niat ikhlas kita yang membuat kita berupaya untuk menjadi hamba yang dicintai Allah-lah yang membuat Allah mempertemukan kita dengan orang yang juga berupaya untuk menjadi sosok yang demikian. Tetap luruskan niat ya, jangan sampai hatinya disusupi syaithan yang mencoba menjadikan kita orang-orang yang dibenci Allah. Naudzubillah min dzaliik.

            Doa Tetaplah Senjata yang Takkan Meleset

Salah seorang guru saya pernah mengatakan bahwa saat sedang berproses atau berniat untuk menikah maka kita seharusnya jadi lebih dekat kepada Allah. Itu benar karena syaithan sangat tahu kelemahan manusia dan akan selalu berusaha untuk menjerumuskan manusia ke jurang kemaksiatan. Jika kita berniat untuk menyempurnakan kewajiban kita sebagai ummun wa rabbatul bayt, maka jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah. Mintalah kekuatan dan petunjuk dari-Nya. Mintalah diberikan keputusan yang terbaik karena doa akan selalu menjadi senjata yang takkan pernah meleset bagi seorang Muslim.

Last but not least, teruslah berproses untuk melayakkan diri dengan amanah apa pun. Dari pengalaman saya, akan lebih baik jika sebelum menikah memiliki ilmu terlebih dahulu, bukan hanya soal pernikahan tetapi lebih dari itu, ilmu tentang kehidupan. Dan Islam sudah punya semuanya. Lengkap dan paripurna. Daripada sibuk menggalau dan menjadi salah satu dari squad para Gegana (Generasi Gelisah, Galau, Merana), lebih baik habiskan waktu untuk mengkaji Islam secara menyeluruh sebagai bentuk sabar dan ikhtiar. Are you ready to find your Mr. Right? Bismillah~~

Your sister in Deen,

Ditri Ayu Rizky A. Lestari

GPS Versi Qaishar

Sebuah episode tidak terduga terjadi hari ini, hari terakhir UTS. Karena ini hari Jumat, anak-anak cepat pulang. Jam 11 mereka sudah pada dijemput. Aku juga nunggu jemputan soalnya Bapak biasa jemput setelah jam 1. Tadi, minta dijemput jam 11, Bapak bilang tunggu dulu. Jadi deh sambil nunggu Bapak, aku ngecharge HP dulu sambil internetan. Saking asiknya, ternyata sekolah udah mau dikunci tapi aku gak tau masih ada empat orang anak yang belum dijemput. Mereka anak kelas dua. Ayudiah, Aira, Abdillah sama Qaishar. Sambil nunggu jemputan aku akhirnya nemenin mereka dulu. Satu per satu udah dijemput. Abdillah trus Ayudiah dan akhirnya Aira ikut Ayudiah. Tinggallah aku berdua sama Qaishar. Dia bilang dia lapar, akhirnya aku beliin dia roti. Habis dia makan, pengennya dia sholat Jumat dulu tapi keburu Bapak datang. Nah, di sini mulai bingung. Kalo aku pulang, si Qaishar sama siapa? Masa dia nunggu jemputan sendirian? Ya udah aku putusin nganter dia tapi dia ikut pulang dulu ke rumah biar Bapak bisa Jumatan. Oke fix si Qaishar ikutan pulang ke rumah. Setelah itu aku nganterin dia.

Masalah lain adalah dia masih 7 tahun. Masih bocah belum ngerti nama jalan, tempat atau sejenisnya. Tapi alhamdulillah dia tau arah rumahnya. Jadilah akhirnya aku nganterin dia bermodal GPS versi dia sendiri. Alhamdulillah lagi, jalan menuju rumahnya gak sulit dan dia hafal jalannya. Sementara kita pulang berdua, semua orang sibuk nyariin dia dan khawatir kalo dia kenapa-napa. Alhamdulillah, aku nyampe rumahnya dan ibunya gak panik lagi. Aku gak sempat masuk (harusnya sih ikut masuk minimal ke depan pintu. Dasar introvert~). Dengan sampainya Qaishar ke rumahnya, berakhir pula episode nganter Qaishar. Ya, itung-itung petualangan siang bolong. Hari Jumat pula (haha apa hubungannya ya?)

Hari ini bener-bener nashrullah buat Qaishar. Aku gak tau apa yang akan terjadi kalo aku ninggalin dia sendirian di sekolah. Kalo bareng anak kelas tinggi mungkin aku juga bakalan sama khawatirnya, apalagi ini anak kelas dua. Entah hari ini aku bisa disebut pahlawan kesiangan (karena emang kejadiannya siang bolong) atau pahlawan dadakan. Sama kayak aku nganterin tiga bocah, Aqilah bersaudara maghrib-maghrib waktu itu karena umminya kejebak hujan. Mungkin itu namanya The Power of Kepepet. Tapi aku bersyukur bisa ada untuk mereka. Pas aku nulis ini masih kebayang gimana wajah capeknya si Qaishar. Gimana Aqilah sama Dzakiroh plus Fakhiroh cuma bertiga nunggu di sekolah. Cuma emang Aqilah udah rada gede (tapi tetap aja mereka anak perempuan dan Aqilah masih kelas lima), apalagi si Qaishar masih kelas dua dan sendirian. Mana tega aku ninggalin dia sendirian? Ninggalin mereka berempat aja aku gak tega, apalagi ninggalin dia sendirian? Dan keputusanku tepat. Meskipun orang tuanya sempat khawatir, tapi aku bisa nyelamatin si Qaishar.

Aku berterima kasih karena Allah bikin skenarionya kayak gini. Bapak telat jemput dan masih ada aku di sekolah. Aku berterima kasih karena Allah menguatkan aku untuk bisa reliable buat anak-anak. Aku berterima kasih sama diriku yang sudah mengambil keputusan di saat-saat kepepet dan aku berterima kasih karena aku bisa nyetir, minimal motor hehe. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal untuk hari ini. Termasuk aku bisa nganterin Umminya Syaddad pulang pas jemputannya gak bisa datang. Aku berterima kasih karena aku masih bisa berguna untuk orang lain saat aku sendiri gak tau apa yang bisa aku lakukan untuk orang lain.

Semoga aku bisa belajar dari hari ini. Hari dimana aku hampir menyerah pada diriku sendiri dan merasa tidak berguna. Dan sekali lagi Allah menunjukkan padaku bahwa aku masih bisa melakukan sesuatu untuk orang lain.

Kendari, 18 Jumadil Akhir 1438 H. 17 Maret 2017.

@ 11:32 PM.

Surga (Juga) Ada di Rumah

Beberapa saat yang lalu saya sempat kebingungan. Selama enam tahun belakangan kehidupan saya dipenuhi dengan kesibukan. Ya, sibuk menjadi seorang aktivis kampus. Kerjaannya tiap hari bolak-balik kampus. Pas masih kuliah, pas masa tugas akhir, pas mau wisuda, pas masih awal-awal di dakwah kampus, pas udah jadi senior, pas harus bolak-balik kontak dosen, pas harus rapat, pas ketemu adik halaqah, pas yang lain-lain. Rutinitas yang tidak sekedar rutinitas tersebut telah menjadi bagian hidup saya sejak enam tahun yang lalu.

Semuanya berubah total saat saya memutuskan kembali ke kampung halaman. Secara fakta saya kembali ke majal yang lama. Namun, secara SWOT semuanya sudah jauh berbeda. Ya, karena generasinya juga sudah berubah dan saya sadar bahwa saya sudah bukan remaja belasan lagi yang dulunya masih alay dan lebay ala-ala anak SMA. Saya bukan di zaman ketika saya masih awal sekali mengkaji Islam. Saya bukan lagi di zaman ketika saya masih labil dan alay. Enam tahun sudah berlalu dan mungkin saya yang tidak berubah. Waktu serasa berhenti dan saya mengalami semacam culture shock.

Saya yang sudah terbiasa dengan kehidupan mahasiswa yang jarang di kontrakan, akhirnya merasa seperti mendekam di dalam penjara. Rumah di pelosok, akses sulit karena kendaraan tidak punya, air terbatas, internet juga terbatas, tetangga sedikit dan semua hal baru yang saya temui nyaris bikin saya hilang kesadaran. Berasa orang asing padahal dulunya saya hidupnya di lingkungan sini meski pun jarak rumah saya yang sekarang sama rumah saya yang dulu jadi lebih jauh, tapi masih bisa disebut satu lingkungan. Selama beberapa waktu saya merasa seperti syuting film dokumenter dengan tema survival.

Setiap hari saya melakukan kebiasaan yang sama. Pekerjaan rumah dan sejenisnya. Saya menggunakan kesempatan keluar rumah di saat-saat yang penting saja (dari dulu juga saya tidak suka kemana-mana kalau tidak penting), namun karena jarak tempuh yang jauh akhirnya selama beberapa waktu saya merasa kelelahan apalagi saya tidak terbiasa berkendara jauh dan hampir setiap waktu saya harus naik motor. Musim hujan menjadi tantangan terbesar bagi saya. Saya seperti syuting My Trip My Adventure. Setelah melewati masa-masa itu, saya tidak percaya bahwa saya ternyata bisa melewatinya.

Selama itu saya lupa melupakan satu hal. Hal sederhana yang sebenarnya mampu menyelamatkan saya dari rasa bosan dan lelah dengan rutinitas. Hampir sepanjang waktu saya menarik nafas panjang dan membayangkan kehidupan seorang ibu rumah tangga biasa. Saya juga membayangkan seorang ibu yang bekerja. Itu benar-benar melelahkan. Pekerjaan rumah tangga benar-benar melelahkan. Tapi, saya lupa bahwa hal itu adalah sumber pahala bagi saya. Mungkin kelihatannya sepele. Bangun pagi, bersih-bersih rumah, cuci piring, masak, cuci pakaian, setrika pakaian dan begitu terus selama beberapa bulan. Saya lupa bahwa di rumah saya juga ada surga. Setidaknya ada hal yang bisa menjadi tabungan menuju surga bagi saya. Mungkin karena saya terlalu realistis atau bahkan jadi materialistis (astaghfirullah~) setelah pulang kampung. Namun pada akhirnya saya sadar bahwa saya pulang ke rumah juga untuk birrul walidayn. Setidaknya saya bisa membantu meringankan pekerjaan Mama di rumah. Setidaknya Mama pulang kantor tidak terlalu capek kalau harus masak lagi. Setidaknya Bapak kedua saya tidak harus menunggu lama untuk makan jika telah selesai berkebun.

Sekarang, setelah saya juga punya kesibukan tambahan, waktu-waktu tersebut akhirnya hanya bisa saya lakukan di pagi dan sore hari setelah kegiatan saya berakhir. Namun, bagaimana pun juga itu adalah pilihan yang saya pilih untuk diri saya. Menjalaninya adalah suatu keharusan dan resikonya harus saya tanggung sendiri. Dari sana saya belajar bahwa hal kecil yang dilakukan dengan keikhlasan dan kesadaran akan hubungan dengan Allah (idrak sillah billah) adalah hal yang akan menghantarkan kepada keridhoan Allah dan pahala yang menjadi tabungan menuju surga.

Bagi seorang Muslim, surga itu bisa didapatkan dimana saja bahkan banyakan gratisnya. Membantu orang tua di rumah, misalnya. Bahkan, menebar salam saja bisa dikatakan sedekah. Satu lagi yang sering terlupakan, ikut kajian keislaman. Pengajiannya juga tidak setiap hari. Sayangnya, masih banyak kaum Muslimin yang beranggapan bahwa mereka yang ikut kajian Islam itu hanya para pengangguran saja. Padahal, menuntut ilmu Islam adalah kewajiban bagi setiap Muslim, termasuk bagi mereka yang merasa sangat sibuk, karena sejatinya tidak ada yang tidak sibuk. Sayangnya, hanya sedikit yang mau meluangkan waktu di sela-sela kesibukan. Jika untuk surga saja kita tidak mampu berkorban, layakkah kita masih berharap memasukinya tanpa halangan?

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab.

Kendari, 14 Januari 2017.17:54 WITA.

Euforia

Hidup itu penuh dengan euforia. Bentuknya bisa bermacam-macam. Hal-hal yang baru saja dirasakan akan mudah menjadi euforia dan akhirnya menjadi kenangan. Dan sebagaimana roda, siklus itu berputar secara alami. Euforia tahun ajaran baru, euforia kelulusan, euforia pernikahan, euforia masa-masa awal dari episode baru kehidupan, euforia reuni, termasuk euforia kehilangan. Hanya saja euforia kehilangan memiliki emosi yang berbeda.

Saya baru saja ber-euforia tentang sebuah kehilangan. Sebagaimana sebuah euforia, saya juga “heboh” sendiri. Saya merasa semuanya tidak berarti lagi. Semua kenangan terasa begitu pahit dan saya pun menghabiskan waktu dengan mengutuk semua kenangan itu dan menyalahkan diri saya sendiri. Bertarung dengan rindu yang menyesakkan. Menampik semua kenangan manis yang dulu saya sebut sebagai sebuah “kesyukuran”. Berusaha mencari sisi positif namun saya berkali-kali gagal. Mungkin, karena sebelumnya hal itu sangat berarti dan ketika Allah mengambilnya kembali saya belum siap merelakannya. Mungkin inilah euforia kehilangan bagi saya. Dan itu amat sangat tidak mengenakkan. Pikiran saya selalu berusaha mengalahkan emosi saya yang juga sedang meledak-ledak. Namun, sepertinya pikiran saya kurang bijak untuk membuat emosi saya bisa memahami tentang semua yang sudah terjadi. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan sebentar lagi bulan akan berganti tahun.

Pada akhirnya, euforia hanyalah euforia. Tidak ada euforia yang abadi. Semua euforia akan berubah menjadi kenangan. Begitu pun dengan euforia kehilangan. Pada satu titik saya merasa bosan dengan apa yang saya rasakan. Saya muak terus-menerus dalam kondisi depresi. Saya tidak punya cara lain selain bangkit dari keterpurukan ini. Meski tidak mudah, saya harus tetap mencoba. Karena terus-menerus berada dalam kondisi terpuruk itu sangat melelahkan. Maka tidak heran, orang yang depresi seolah hanya punya satu pilihan, yakni bunuh diri. Semua itu karena mereka lelah. Namun, bagi saya masih ada pilihan yang jauh lebih baik, yakni bangkit dan berubah. Saya percaya, semua akan berubah perlahan-lahan saat kita mulai mengikhlaskan dan bersyukur atas semuanya. Alhamdulillah, saya berterima kasih kepada Allah yang menguatkan saya di saat-saat terburuk dalam hidup saya. Saya juga berterima kasih pada diri saya yang masih sudi untuk mencobanya. Mencoba bangkit dari keterpurukan. Perjalanan ini baru saja dimulai. Episode baru pasca semua euforia yang terjadi. Saya takkan bisa menjadi sempurna, tapi saya akan berusaha semampu saya. Bukankah itu yang disebut dengan berlari menuju kesempurnaan? Memberikan yang terbaik dari yang mampu kita berikan.

Pada akhirnya saya mengerti bahwa kehilangan bukan akhir dari segalanya. Euforia kehilangan juga hanyalah sementara jadi jika sudah terlanjur maka tahanlah semua perasaan negatif itu, karena waktu yang akan menyelesaikan sisanya. Semoga iman ini tak sekedar euforia yang membara pada saat-saat tertentu saja. Semoga iman ini selalu menyala karena ia adalah satu-satunya pelita di saat-saat tergelap dalam kehidupan.

Ini adalah terapi pertamaku. Kuharap aku bisa terus bersemangat untuk menyembuhkan diriku.

Kendari, 25 Desember 2016. 09:09 WITA.

Story about a Pair of Wings

a-pair-of-wings

Bagi saya, punya teman adalah hadiah tersendiri. Apalagi punya teman yang reliable. Tapi, untuk yang satu ini bukan sekedar teman. Dia lebih dari itu. Dia seperti saudara kembar (tapi beda hehe). Karena itu, dia kuberi label spesial, yakni “separuh sayap”-ku.

Mungkin kedengarannya aneh atau lebay kali ya? Bahkan saya sendiri juga tidak percaya. Namun dengan banyak percakapan akhirnya saya sedikit demi sedikit merasa, “oh, jadi gini rasanya punya saudara kembar”. Meski pun banyak bedanya, tapi tidak sedikit hal yang mirip di antara kami. Dan entah kenapa dia suka sekali kalau saya dan dia ada kemiripan. Saya sendiri sebenarnya lebih nyaman dengan banyak perbedaan. Dengan begitu, saya akan banyak belajar. Tapi, karena saya ingin “menjaga perdamaian” ya udah saya iya-in aja kalo misal dia ngerasa ada yang mirip, hehehe.

Salah satu perbedaan besar di antara kami adalah dia yang sering sekali hilang fokus dalam percakapan. Yah, mungkin karena modelnya chatting kali ya? Tapi, teman-teman saya yang lain jarang tuh yang suka “salpok” (salah fokus). Kalo sama dia hampir tiap chatting pasti aja fokusnya jadi kemana-mana. Saya ngomong apa, dia nyambung kemana. Trus tiba-tiba ganti topik padahal saya belum selesai bahas. Kalo udah heboh pasti dia suka salpok. Saya pikir saya adalah orang yang lebay, ternyata masih ada orang yang lebih lebay dari saya, ya dia itu (peace hehehe :v). Tapi, karena salpoknya itu saya nganggap itu lucu dan itu adalah charming (pesona) tersendiri buat dia. Kadang saya kesal, tapi saya lebih sering nganggap itu lucu daripada ngeselin, kecuali kalo saya lagi serius.

Saya berterima kasih sama dia karena dia hampir selalu berhasil “mengganggu” ketenangan saya. Punya teman extrovert kadang bikin capek, tapi saya bersyukur karena dia selalu ada dalam hari-hari saya. Mulai dari berbagi hal yang paling tidak penting sampai sekedar mendengarkan saya curhat. Saya juga merasa bersalah karena saya terlalu sering nyusahin dia kalo saya lagi banyak pikiran. Tapi, entah kenapa dia tahan banget sama sikap saya yang “aneh” dan mungkin saja menyebalkan. Penerimaan dia ke saya lebih baik dari penerimaan saya ke diri saya sendiri. Itu membuat saya sangat bersyukur karena punya saudara sebaik dan se-pengertian dia. Tidak mudah menemukan orang yang mau mengerti apalagi dengan karakter saya yang amat sangat rumit (bahkan saya kadang gak ngerti sama diri saya sendiri). Meski terlambat menyadari, saya akhirnya tahu bahwa masih ada orang-orang yang peduli pada saya. Dari sana juga saya belajar bahwa Allah gak akan pernah benar-benar ninggalin kita sendirian, asal kita percaya bahwa Allah akan selalu ada buat kita, termasuk mengirimkan orang-orang baik dalam hidup kita. Yaa Rabb, I will always thank You for sending people like them, especially her.

Untukmu, sayapku (yang sebenarnya tidak bersayap), terima kasih untuk semuanya. Entah dengan apa harus membalas semua kebaikan dan kepedulianmu serta tingginya rasa pengertianmu. Mungkin karena aku sadar bahwa kamu lebih tua jadi kadang rasa manja itu keluar dengan sendirinya tanpa disadari (peace hehe). Tapi, aku tahu selama kita jadi saudara kita akan selalu bisa berbagi, apa pun itu. Terima kasih sudah membersamaiku selama ini. Menghadapi banyak kesulitan selama berinteraksi denganku. Berusaha untuk selalu mengerti apa yang kupikirkan dan kurasakan. Maafkan karena selama ini aku seperti menjadikanmu sebagai pohon tempat bersandar ketika aku lelah dengan dunia di luar sana. Terima kasih sudah mau mendengarkan semua uneg-uneg yang sulit kusampaikan kepada siapa pun. Terima kasih karena sudah menjadi fans pertamaku. Love you in Allah as always ❤

Semoga kita akan tetap seperti ini. Jadi sepasang sayap yang saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Semoga tidak hanya di dunia, tetapi juga sampai ke Surga-Nya kelak. Aamiin~

Kendari, 16 Desember 2016. 20:37 WITA.