[06] Belajar dari Pengalaman

Dulu, saat masih sekolah, banyak quotes yang bertebaran di ujung halaman buku tulis yang sering saya beli. Salah satu yang muncul di halaman tersebut adalah “experience is the best teacher”. Pengalaman adalah guru terbaik.

Dulu, saya belum mengerti betul apa itu belajar dari pengalaman dan bagaimana belajar dari pengalaman. Namun, hidup mengajarkan saya tentang kalimat itu setelah semua naik-turun dan jatuh-bangun yang saya alami dan saya hadapi selama perjalanan hidup saya. Saya sadar bahwa pengalaman adalah hal yang bisa mendewasakan seseorang, tergantung seberapa jauh dia belajar dari pengalaman itu. Dalam beberapa episode, saya memang gagal belajar dari pengalaman sehingga saya harus mengalami beberapa kali proses remedial—saya menyebutnya—yang pada akhirnya membuat saya menyadari hal-hal apa saja yang luput dari saya di episode sebelumnya—hal yang membuat saya gagal. Saat belajar dari pengalaman, kita akhirnya tahu bahwa kita akan selalu punya kesempatan. Saya belajar bahwa dunia takkan pernah memberi kesempurnaan dan kebahagiaan yang kita inginkan. Dalam beberapa hal, ada kebahagiaan yang harus kita ciptakan sendiri, daripada harus menunggu kebahagiaan itu datang pada kita.

Jika hidup adalah perjalanan, maka perjalanan dalam rangka belajar dari pengalaman pastilah akan kita tempuh selama hidup kita. Tidak selamanya pengalaman itu adalah pengalaman indah. Terkadang, pengalaman pahit justru merupakan pelajaran yang paling berharga yang bisa kita ambil. Dari sana kita belajar bahwa apa yang menjadikan kita manusia adalah mozaik perjalanan kehidupan kita. Perpaduan tawa dan tangis. Adanya kebahagiaan dan rasa sakit. Adanya luka yang pernah tergores dan senyum yang terukir. Layaknya film, kita menjadi pemeran utama dalam episode kehidupan kita masing-masing. Jika kita menjadi second lead atau bahkan hanya figuran dalam kehidupan orang lain, maka dalam episode kehidupan kita, kita adalah tokoh utama.

Saya setuju bahwa proses pendewasaan seseorang tidaklah sama. Masing-masing orang memiliki zona waktunya sendiri-sendiri. Ada yang prosesnya cepat, tapi di beberapa kasus, ada yang justru lama meski pun secara penampakan ada beberapa orang yang terlihat memiliki potensi. Namun, perjalanan hidup masing-masing orang tetaplah berbeda. Jika kita merasa bahwa episode kehidupan kita mirip dengan beberapa orang, percayalah episode itu takkan pernah sama, karena hidup amat sangat subjektif. Semua kembali pada satu individu dan itu yang membuat kehidupan seseorang istimewa karena seberapa pun miripnya episode kehidupan satu orang dengan orang lain, tidak akan pernah benar-benar sama. Begitulah Allah menunjukkan kekuasaan-Nya atas manusia. Allah menciptakan alam semesta, manusia beserta kehidupan agar manusia bisa mengambil pelajaran. Jika bukan kepada-Nya kita mengembalikan segala urusan, lantas kepada siapa kita akan menyandarkan segalanya?

Kendari, 7 Ramadhan 1439 H. 23 Mei 2018.

Advertisements

[05] Menikmati Proses

Seseorang pernah bilang, nikmati prosesmu maka kamu akan dapati progresmu. Ada lagi yang bilang, hasil takkan mengkhianati proses maka nikmati prosesnya.

Menikmati proses. Sebuah frasa yang mungkin terdengar mudah, namun pada kenyataannya tidak semudah itu. Menikmati proses bukan hanya soal bagaimana menjalani hal-hal yang sesuai dengan harapan. Justru sebaliknya, proses itu seringkali jauh dari yang diharapkan. Sekali waktu, kita mungkin dihadapkan pada kesalahan dan berujung gagal.

Sebelum sampai ke titik ini, saya juga pernah mengecap kegagalan. Saya melakukan begitu banyak kesalahan sampai saya tidak bisa melihat lagi hal baik apa yang sudah saya lakukan. Saya menyalahkan diri saya sendiri, saya melabeli diri saya dengan label negatif dan pada akhirnya saya membenci diri saya sendiri. Ketika begitu banyak nasehat yang datang pada saya bahwa saya terlalu keras dengan diri saya sendiri—saya seharusnya belajar mencintai diri saya sendiri dan sebagainya—saya kembali berpikir bahwa mungkin saja mereka benar. Mungkin, selama ini saya terlalu keras pada diri saya sendiri dan itu membuat saya tidak menikmati proses yang saya jalani. Saya terus berlari sekencang yang saya bisa. Saya tidak tahu kapan saya harus mengambil jeda untuk beristirahat sejenak hingga pada batasnya saya benar-benar K.O—jatuh dan susah untuk bangkit lagi. Saya akhirnya harus berputar jauh sekali, tersesat jauh sekali untuk kemudian bisa belajar kembali tentang bagaimana menikmati proses.

Sampai detik ini, saya masih memiliki begitu banyak ketakutan dan kekhawatiran saat menjalani proses kehidupan saya. Tapi, saya berusaha untuk tidak menjadikan ketakutan dan kekhwatiran itu sebagai senjata yang akan membunuh saya di tengah perjalanan saya. Saya berusaha mengalirkan perasaan dan emosi saya dalam proses yang saya jalani. Saya sadar bahwa saya harus berani menghadapi rasa takut dan rasa khawatir itu untuk memahami sejauh mana mereka mempengaruhi saya. Saya tidak ingin getaran negatif yang masih ada dalam diri saya menjadi penghalang bagi saya untuk bahagia dalam menjalani proses kehidupan yang saya jalani. Untuk itu, saya harus terus berjalan dan terus belajar untuk menikmati proses saya. Saya tidak boleh membiarkan diri saya kembali terjatuh dalam ketakutan dan kekhawatiran yang membuat saya meragukan diri saya sendiri sehingga saya berhenti melangkah.

It is okay to pause but don’t stop. It’s okay to have no answer of everything. It’s okay not to have a dream, as long as we’re happy. We still learn, right? Just go with faith, cause someday we’ll find the answers by ourselves.

Kendari, 6 Ramadhan 1438 H. 22 Mei 2018. 22:27 WITA.

[04] Tak Perlu Menjadi Sempurna

Sebagai orang yang punya nature introvert, saya termasuk orang yang self-aware-nya cukup tinggi untuk menyadari kalau ada sesuatu yang kurang pas atau bahkan salah—entah itu ada hubungannya dengan sisi intuitif saya atau tidak. Tapi, karena self-aware itu juga saya jadi orang yang perfeksionis. Sayangnya, hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana atau sesuai yang kita harapkan. Sampai sekarang pun itu jadi tantangan tersendiri bagi saya. Perfeksionis memiliki dua sisi yang harus selalu saya perhatikan karena sisi itu bisa jadi positif, bisa tidak.

Saya jarang mentolerir kesalahan sekecil apa pun, terutama jika kesalahan itu dari saya. Saya pasti akan mengambil banyak waktu untuk menyalahkan diri saya sendiri. Namun, akhirnya saya sadar bahwa kita tidak perlu menjadi sempurna untuk menjadi yang terbaik. Kita hanya perlu melakukan yang terbaik yang kita bisa untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.

Kita memiliki kapasitas diri masing-masing. Kita punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita punya zona waktu masing-masing dalam bertumbuh dan mendewasa. Ada yang prosesnya cepat, ada yang butuh waktu relatif lebih lama dari yang lain. Namun, pada akhirnya kita akan sama-sama mendewasa lewat pengalaman hidup yang kita alami. Saat itu kita juga menyadari bahwa apa yang mendewasakan kita adalah ketidaksempurnaan yang kita miliki, karena pada dasarnya kesempurnaan itu takkan pernah menjadi milik kita sekali pun kita menginginkannya. Kita hanya bisa berlari ke arah sana, melakukan yang terbaik dari yang bisa kita lakukan, karena kita adalah diri kita sendiri, bukan orang lain.

Untukmu yang masih menginginkan kesempurnaan, tidak perlu sempurna untuk menjadi yang terbaik. Tidak apa-apa jika kamu melakukan kesalahan dalam hidupmu karena kamu akan terus belajar. Kamu mencari jawaban untuk sesuatu yang terkadang tidak ada, tapi bukankah kita masih belajar dan akan terus belajar? Jika hidup adalah perjalanan, maka perjalanan itu juga termasuk perjalanan dalam rangka belajar dari pengalaman. Tidak apa-apa berhenti sejenak. Tapi, teruslah berjalan. Jawaban itu pasti akan kita dapatkan selagi kita terus berjalan. Hidup bukan seperti perlombaan lari sprint dimana kita harus terus berlari dengan kecepatan penuh. Hidup itu seperti lari marathon. Jadi, berhentilah berlari untuk sesuatu yang sia-sia. Saya yakin, kita yang paling tahu tentang diri kita. Kita tahu kapasitas kita ketika kita benar-benar jujur dan berusaha jujur pada diri kita sendiri.

        Tidak perlu menjadi sempurna, karena kita manusia.

 

Kendari, 4 Ramadhan 1438 H. 20 Mei 2018. 22:40 WITA.

[03] Kesungguhan

Kita semua memulai sesuatu dari titik yang sama. Kita memulai dari titik dimana kita tidak tahu apa pun. Perbedaannya terletak pada sejauh mana kita bersungguh-sungguh untuk belajar sehingga perlahan tapi pasti kita melangkah dari satu titik ke titik yang lain menuju titik bernama kesuksesan. Kita tidak akan berhasil tanpa sebuah kesungguhan dan konsisten melakukannya serta terus menerus belajar. Sesulit apa pun, dengan kesungguhan kita akan menemukan jalan keluar.

Aku melihat banyak orang yang memulai semua dari titik nol namun berhasil melampaui titik tertinggi dengan berbekal kesungguhan. Kalau kita sungguh-sungguh berarti kita serius untuk melakukan suatu hal.

Ramadhan mengajarkan kita tentang kesungguhan, khususnya dalam beribadah. Kesungguhan itu dibuktikan dengan seberapa konsisten kita dengan amalan kita selama Ramadhan yang akan terus kita laksanakan sekali pun Ramadhan sudah berlalu. Lebih dari itu, Islam mengajarkan kita untuk selalu bersungguh-sungguh dalam beramal. Bersungguh-sungguh berarti memberikan yang terbaik yang kita bisa untuk melakukan suatu perbuatan dalam rangka meraih keridhoan Allah. Kewajiban yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan berbeda dengan kewajiban yang dilakukan hanya sekedar “formalitas” atau sekedar menggugurkan kewajiban. Allah bahkan menetapkan bahwa syarat diterimanya amal adalah ikhlas karena-Nya dan sesuai dengan Syariah. Itu artinya, Allah ingin kita senantiasa bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada-Nya. Allah ingin menguji sejauh mana kita bersungguh-sungguh untuk bisa sampai pada titik dimana Allah ridho dengan perbuatan kita sehingga kita pantas mendapatkan reward berupa Surga-Nya.

Aku termasuk dari yang belum bersungguh-sungguh dan aku menyadarinya. Untuk itu, aku harus belajar agar aku bisa menjadi orang yang bersungguh-sungguh terhadap pilihan yang sudah kuputuskan. Inilah perjalananku. Perjalanan yang mengajarkanku tentang kesungguhan. Aku sudah melihat banyak orang yang berhasil karena mereka bersungguh-sungguh. Kesungguhan yang selalu mereka perbarui ditambah dengan sikap konsisten yang terus mereka jaga. Aku berharap di masa depan aku juga bisa bersungguh-sungguh dalam melaksanakan segala amanah-ku. Aku berharap aku bisa lebih percaya pada diriku bahwa aku bisa melakukannya dan aku harus membuktikannya dengan bersungguh-sungguh.

Kendari, 3 Ramadhan 1439 H. 19 Mei 2018. 22:46 WITA.

[02] Menghargai Pertemuan

Dulu, kota ini begitu asing bagiku. Aku masih ingat saat aku pertama kali menjejakkan kakiku di kota ini dengan tampangku yang tidak berbentuk karena mabuk udara. Ya, dulu aku hanyalah orang asing di kota ini. Namun sekarang, kota ini berbeda. Satu hal yang kutahu, aku akan merindukan semua tentang kota ini dan tentang tempat dimana aku belajar.

Mungkin memang kita tidak akan pernah benar-benar menghargai pertemuan sampai hari perpisahan itu datang. Saat semua kenangan terputar kembali—layaknya film—di memori kita. Meski pun aku menghitung hari dengan begitu hati-hati sambil mempersiapkan diri, namun pada kenyatannya mengucapkan selamat tinggal selalu terasa berat saat sudah begitu banyak kenangan yang terukir dan hari-hari sudah dilalui dengan begitu banyak makna.

Aku tidak berekspektasi apa pun tentang kota ini karena sejujurnya kupikir ini terlalu cepat bagiku. Setahun setelah aku memutuskan untuk fokus menyembuhkan diri dan menikmati masa “istirahat”-ku, ternyata Allah memberiku kesempatan untuk melakukan perjalanan lagi. Sebuah perjalanan yang memberikan begitu banyak pelajaran padaku. Sebuah perjalanan yang akan terus kukenang sampai kapan pun.

Apa aku berlebihan kalau aku mengatakan bahwa aku jatuh cinta pada kota ini dan suasananya? Haha, mungkin iya. Namun, begitulah kenyataannya. Kota ini seperti kesempatan kedua bagiku. Selama 60 hari aku berinteraksi dengan orang-orang yang memberiku banyak pelajaran berharga. Selama 60 hari aku bertemu banyak wajah dan mendapatkan pengalaman baru. Selama 60 hari aku merenung di sela-sela tawa dan air mata. Selama 60 hari aku belajar untuk memaafkan, melepaskan dan menyembuhkan luka-ku. Enam puluh hari aku belajar selain melakukan perjalanan lain dengan tujuan yang sama, untuk memaafkan dan melepaskan serta menyembuhkan luka.

Perjalanan kali ini membuatku belajar tentang menghargai pertemuan. Aku menghargai keberadaan orang-orang di sekitarku saat aku pergi meninggalkan mereka. Aku pun menghargai pertemuanku dengan puluhan wajah di kota ini saat aku akan pergi meninggalkan mereka untuk kembali ke kota kelahiranku. Sebagaimana hidup yang merupakan pergiliran masa, layaknya musim yang terus berganti, pertemuan dan perpisahan pun menjadi salah satu episode yang Allah pergilirkan dalam kehidupan manusia.

        In the end, I learned that there always be a new direction for every turning point.

Inilah perjalananku. Perjalanan untuk menghargai sebuah pertemuan. Perjalanan untuk menjadi bijaksana dalam memaknai perpisahan. Perjalanan untuk memaafkan dan perjalanan untuk melepaskan.

Ramadhan itu juga tentang sebuah perjalanan. Ramadhan mengajarkan kita bahwa setiap awal pasti akan berakhir. Namun, setelah akhir, akan ada awal yang baru. Ramadhan baru saja dimulai dan sekian hari lagi, Ramadhan akan pergi. Maka hargailah pertemuan dengan bulan Ramadhan karena kita tidak tahu apakah kita masih akan bertemu dengannya atau tidak. Semoga Ramadhanmu, Ramadhanku, Ramadhan kita menjadi lebih berarti dari sebelumnya saat kita mulai menghargai pertemuan kita dengannya.

Bogor, 2 Ramadhan 1439 H. 18 Mei 2018. 21:52 WIB.

[01] Menundukkan Ego

Sebagai makhluk, manusia dibekali potensi kehidupan oleh Allah SWT, salah satunya adalah naluri. Salah satu naluri yang Allah anugerahkan kepada manusia adalah naluri baqo’ (naluri mempertahankan diri). Salah satu penampakkan naluri ini adalah adanya egosentris dalam diri manusia. Manusia selalu cenderung mengutamakan dirinya, menuntut untuk diperhatikan dan memilih menyelamatkan perasaannya saat sesuatu mengusik emosinya.

Salah satu yang kupelajari dari perjalananku juga ada hubungannya dengan menundukkan ego. Aku menyadari bahwa egosentris-ku sangat besar ketika aku berusaha menyelamatkan perasaanku sendiri. Aku begitu takut terluka sehingga aku memilih lari dari kenyataan dan aku tersesat begitu jauh dari tujuanku. Aku lari dari kenyataan karena kenyataan itulah yang menjadi sumber rasa sakitku. Aku memilih lari karena mengikuti kecenderungan naluriku untuk menyelamatkan perasaanku. Tentu ada yang tidak tepat di sini. Bagi yang sadar, pasti akan berkata bahwa aku tidak seharusnya melarikan diri dari kenyataan. Aku harusnya bisa berdamai dengan kenyataan, berteman dengan rasa sakit, menikmati perihnya luka dan sikap bijaksana lainnya. Sayangnya, waktu itu aku terlalu muda untuk mengerti. Aku belum benar-benar bijaksana menyikapi semua rasa sakit itu. Akhirnya, melarikan diri adalah hal yang pertama kali terpikir olehku. Karena itu pula aku mengalami kegagalan. Ya, aku gagal melepaskan apa yang harus kulepaskan. Aku marah saat aku tahu bahwa ada hal yang harus kulepaskan untuk bisa sembuh dari rasa sakit. Aku tidak menyadari bahwa egosentris-ku yang mempertahankan sesuatu yang harus kulepaskan justru adalah sumber dari rasa sakit yang kupertahankan secara tidak sadar.

Dulu, aku tidak mengerti di batas mana aku harus mempertahankan dan di batas mana aku harus menyerah kemudian melepaskan. Dulu, kupikir aku harus mempertahankan sesuatu yang menurutku layak untuk dipertahankan. Namun, aku tidak tahu bahwa mempertahankan sesuatu hanya karena egosentris belaka dalam rangka menyelamatkan perasaanku sendiri justru membawa luka yang jauh lebih menyakitkan.

Akhirnya, aku belajar bahwa seberat apa pun mengucap selamat tinggal, sesakit apa pun rasanya melepaskan sesuatu yang teramat dicintai, sesakit apa pun keluar dari gravitasi yang begitu kuat karena ikatan emosional, tidak akan sebanding dengan kelegaan yang didapatkan setelahnya.

Ramadhan mengajarkan kita untuk menundukkan ego. Dalam ibadah puasa yang kita jalani, meredam amarah juga salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menundukkan ego. Kita memang tercipta dengan egosentris yang kita bawa dan takkan bisa kita hilangkan. Namun, akan selalu ada cara untuk menundukkannya, karena kita tidak hanya punya itu. Kita punya akal untuk berpikir dan merenung. Kita punya naluri beragama dimana saat kita berusaha untuk memutar haluan kepada Allah untuk kemudian meminta perlindungan, maka egosentris itu akan bisa kita tundukkan sesuai dengan apa yang Allah kehendaki atas kita.

Aku tahu perjalananku masih panjang. Perjalanan menundukkan ego bukanlah sebuah perjalanan yang singkat. Bahkan mungkin, perjalanan ini akan menghabiskan sisa umurku. Namun, aku percaya bahwa semakin jauh aku berjalan, semakin sering aku belajar, maka aku pun akan bisa mendewasa bersama waktu, termasuk menundukkan ego untuk menerima kenyataan dan melepaskan apa yang harus dilepaskan.

Terima kasih karena telah mempertemukanku kembali dengan Ramadhan. Terima kasih karena telah mengiringi perjalananku sampai di Ramadhan ke-26 yang kulalui sepanjang usiaku.

Bogor, 1 Ramadhan 1439 H. 17 Mei 2018.

PROLOG; FINDING “ME”

Jika hidup diibaratkan sebuah perjalanan, maka dalam setiap perjalanan pasti memiliki tujuan akhir. Sebelum benar-benar sampai ke sana, kita mungkin akan mampir ke tempat-tempat tertentu. Kita akan melepas lelah sejenak sebelum akhirnya kembali melanjutkan perjalanan. Dan pada akhirnya, sejauh apa pun kita berjalan, kita akan sampai pada titik akhir perjalanan kita. Dan jika Surga menjadi tujuan akhir perjalanan kita, maka dunia adalah persinggahan. Lalu kematian akan menjadi tempat transit bagi kita sebelum akhirnya kita benar-benar sampai ke Surga.

Sebelum hari ini, kupikir perjalananku sudah selesai. Kupikir aku tidak bisa lagi melanjutkan perjalananku menuju akhir. Aku sempat berada di titik terendah dalam hidupku dan kupikir semua sudah berakhir. Namun ternyata aku hanya tersesat. Aku mengambil jalan yang terlalu jauh sehingga aku tidak bisa melihat tujuan akhir-ku dengan jelas. Perlahan tapi pasti, aku menemukan banyak hal ketika aku memutuskan kembali berjalan meski aku tahu aku sedang tersesat. Sedih? Iya. Iri? Pasti. Di saat semua orang sudah berlari menuju cita-cita mereka, aku justru tersesat di tempat asing dan aku sama sekali tidak terpikir apa pun. Namun, semua berubah saat aku memutuskan mengubah sudut pandangku. Ternyata, tersesat tidak seburuk bayanganku. Justru tersesat membuatku memiliki waktu lebih banyak untuk merenungi semuanya dan aku bisa berpikir lebih jernih tentang tujuan akhir dari perjalananku. Mungkin kalimat “kehilangan arah adalah cara untuk menemukan arah itu” ada benarnya. Kalau aku tidak tersesat sejauh ini, aku tidak akan mendapatkan begitu banyak pelajaran seperti saat ini.

Ini adalah cerita perjalananku. Cerita tentang perjalanan untuk memaafkan, perjalanan untuk menyembuhkan, perjalanan untuk belajar, perjalanan untuk mencintai, perjalanan untuk membuat sebuah ikatan baru, perjalanan untuk memulai sesuatu yang baru dan perjalanan untuk melepaskan. Ini cerita tentang menemukan diriku.

Kuharap Ramadhan akan kembali menjadi titik balik perjalananku. Kuharap Ramadhan akan membantuku menemukan kembali jalanku.

Bogor, 1 Ramadhan 1439 H. 17 Mei 2018.

I will Forgive My Self

Someone said that writing is a therapy. I agree. Until now I still consider it as therapy. I’m healing my self now with writing it self. And I’m on my way to forgive my self.

I have many things that make me disappointed with my self. I used to resent my self a lot. I always fail to make my life meaningful. I have so much care about the other but don’t care about my self and my life. I want to make my self happy in proper way. I want to find my own happiness but I always fail and ended up blame my self. I always envy about other’s life and never be grateful of my self. But if I can make another wish, I wish Allah helps me to make my self understand why I have to change and live properly. I wish Allah helps me to be more grateful about my self and my life. Maybe I can’t always walk in flower road, but I know that I have to do what I have to do as His servant. And it means that I have to make my self understand about my compulsories. I have to take care about my self. I have to live to the fully part. I have to concern about what I have do to become the best for the sake of Allah. 

Rather than showing what I’m doing now to heal my self, I choose to shut up my self and do everything secretly. I want to do everything for my self in silence. I’m on my way of my first move so I have to work harder than anyone else. I want to come to that world with a new refreshing mind. But I don’t want to hurry about that. I want to take my time and do my best.

Kendari, 29 Safar 1438. November 29th 2016. 08:03 PM.

I Wish I could Love My Self

There are so many times in my mind when the silence shouts louder than words can shout. I have so many thoughts that so hard to sort out. My feelings mix and turns into something I can’t define. I wish I could describe and define all of these thoughts and these feelings but I just can’t.  I wish I could tell the universe about what I think and what I feel. I cry so many times and resent myself for my undefined sins. I shut myself down and I do the same with my life. I escape from reality even if I’m so tired. I’m tired of runaway but I can’t help to do that and I keep doing that way. That’s right, I’m a loser. But I hate enjoy the time being a loser. Many things disappoint me and I don’t know how to fix those all. In the silence I scream. In the silence my grudge becomes bigger and bigger. I resent all of the memories that still hang in my mind. I hate those memories so much. An introvert like me can only being like this. Scream and shout in silence.

I used to hate myself so much. I want to be like other people outside. They can laugh freely. They can make friend with everyone. They can make decision about their life confidently. They can be themselves. They walk in this life without many concerns and worries. I wish I could live like them.

I used to care so much about the other. I always think of them. I always care about something important in their life but I was betrayed by my feeling. I thought they think and feel the same way as I did. But I was so wrong. And now I realize that the one I should care and love the most is myself. The one I should look after so well is myself. I can’t remain in the same position forever. I have to make a new move in my life. I have to make a change of my life. In order to continue my life, I have to continue walk on my path. I shouldn’t look back. Like this time is enough. This is all I need.

I should say thanks for all those pains and tears. I should say thanks to them who has broken my heart and tear it into pieces. Because of those things, I can grow up and gain strength. That’s right, what doesn’t kill you only makes you stronger. At least I live. Since I’m not die yet, I choose to live. That’s the only thing I can do. My life is precious present from Allah and I shouldn’t throw it away. I have gone through many things in this 24 years of my life. Even though I still don’t have any achievement yet, I want to continue my life as I am.  I want to continue live and do my best. I want to enjoy every process and episodes of my life. There’s nothing wrong being an introvert. There’s nothing wrong being an INFP. I just have to manage it properly so that I can live as Allah pleased. In Allah’s way.

First, I was so hard to accept myself. I can’t accept that I’m an introvert and an INFP. I found it’s hard to face my days. But now I think I can adapt to it. This is me, an INFP person. Maybe I can’t make friend with everyone, but I’m still have a few friends I can trust. They always cherish and encourage me. They care for me and remember me in their own way. I always be grateful to have them as my friend. Now I think I can accept that people come to my life then go to their own way. I think I can accept that just a few people can remain as my friends. And I’m happy as long as I know they remember me and consider me as their friend. Now I know why it’s hard for me to accept reality because I live in imagination world. I’m full of imagination in my mind. But now, I try my best to look at the real world. This is my life, this is my self. I can do nothing except accepting it and cope with it.

Someone told me that I shouldn’t hide too long. I thanked her because she still care about me. But I think this is me. I enjoy everything just by myself. I think I can’t be someone like before. I want to be honest to myself. I will take my time and live as well as I can. I will learn to listen to myself more. I will learn to love myself more. And I think now is better. I don’t care too much about many people. I can let them live in their own way. I still cherish them from the bottom of my heart. That’s right I’m still hope someone is beside me. I’m still hope I can have friend in my reality but I should accept that they are far away from me. All I can do is support them and wish the best for them.

Ya Allah, I’m sorry because I was rude to myself. I pushed myself too hard for something I can’t reach forever. Maybe that’s right that the reason they went away is on me. But, it’s a fate that our friendship isn’t for long last. We have to be apart. I have no choice. It’s Your decision. We’re not meant to be and I have to accept it. Now, I think I can continue to walk on my future and continue my life without any regret of the past. I won’t look back and just walk.

Kendari, 28 Safar 1438. November 28th 2016.

@ 06:19 PM.

Bangtan Seonyeondan dan Lagu-Lagunya

Kupikir aku takkan pernah menyukai boy grup lagi setelah TVXQ. Namun, sepertinya aku kembali menyukai sebuah grup lebih dari yang lainnya. Bangtan Boys atau Cowok-Cowok Anti-Peluru. Cheesy banget gak sih namanya? Tapi, sebenarnya bukan itu yang penting. Bukan juga karena mereka sudah terkenal dan mendunia. Atau karena tingkah kocaknya. Sebenarnya semua boy grup Korea sama. Sama-sama aneh dan punya kegilaan sendiri-sendiri. Namanya juga cowok-cowok, kalo udah ngumpul ya bakal heboh dan aneh. Cewek juga biasa gitu kan? Yah, generasi jaman sekarang. Generasi SUWAEG hehehe.

Hal yang kusukai dari BTS adalah lagu-lagu mereka yang merepresentasikan kehidupan dari masa remaja menuju dewasa. Mereka memiliki konsep dan cerita sendiri dalam setiap album-albumnya dan itu tidak melulu soal cinta picisan ala ala anak muda hari ini atau cinta ala orang dewasa. Lagu-lagu BTS sarat dengan pesan dan cermin tentang kehidupan. Mereka berhasil menuangkan isi pikiran mereka tentang hidup lewat karya-karya mereka. Mereka tidak sekedar menjadi komersil meski pun memang itu tujuannya, tapi mereka juga menempatkan isi pikiran mereka. Jadi, ada banyak hal yang bisa dipelajari. Musik adalah kehidupan mereka dan mereka merepresentasikan semuanya lewat musik.

Aku suka hip hop dan aku suka warna BTS. Aku belum menemukan boy grup seperti mereka sejauh ini. Rata-rata boy grup punya konsep yang sama meski pun warna musiknya berbeda-beda tetapi sedikit yang punya cerita tentang kehidupan secara umum dalam albumnya sebagaimana BTS menceritakan kisah mereka.

Aku mulai menyadari itu di album trilogi mereka yang berjudul The Most Beautiful Moments in Life. Dan di salah satu lagu mereka yang berjudul Epilogue: Young Forever, aku benar-benar menyukai lagu itu karena maknanya sangat dalam. Di album selanjutnya juga begitu, yaitu di album Wings dan aku benar-benar suka semua lagunya. Semua berdasarkan pengalaman setiap member dan refleksi mereka tentang kehidupan khususnya tentang mengejar mimpi dan cita-cita. Di album trilogi, cerita dalam lagunya memang cukup beragam. Tentang cinta, patah hati, terlahir kembali, kenangan masa lalu dan hal-hal yang mungkin bisa dirasakan di usia muda. Makanya judulnya The Most Beautiful Moments in Life. Sedangkan di album Wings, mereka lebih banyak bercerita tentang kisah hidup pribadi mereka dan apa saja yang sudah mereka lalui.  Mereka juga bercerita tentang kondisi hari ini dan menyemangati para perempuan di luar sana tentang menjadi diri mereka sendiri. Dan pastinya tentang cerita menjadi orang dewasa yang sibuk mengejar mimpi.

Aku benar-benar merasakannya sekarang. Pikiran dan bebanku lebih banyak dari sebelumnya. Beberapa waktu ini aku merasa begitu berat dan saat aku melewatinya semua seperti mimpi. Aku tidak mengatakan bahwa aku sudah benar-benar bisa melewatinya. Aku tahu pasti akan kumat lagi karena aku tipikal orang yang bergerak berdasarkan emosi. Jika emosiku terganggu, maka hidupku juga akan berantakan. Jadi, aku harus latihan untuk menjaga stabilitas emosiku.

Di saat-saat terberat dalam hidupku itulah aku banyak belajar dari lagu-lagu BTS. Tentu tidak semata-mata itu saja, tapi sedikit banyak BTS membuatku merasa bahwa bukan hanya aku yang seperti ini. Dan bahwasanya ada saat-saat dimana kita akan merasakan hal seperti ini. Saat kita beranjak dewasa dan terus menanjak menuju puncak kedewasaan.

Aku sudah banyak melewatkan masa-masa penting dalam hidupku. Aku bahkan sudah mengacaukan hidupku tahun ini. Tahun 2012 yang lalu dan tahun ini adalah tahun terburuk dalam sejarah kehidupanku. Tahun 2012 aku kehilangan dan tahun ini aku juga kehilangan lebih banyak lagi. Bisa dikatakan tahun ini aku kehilangan semuanya. Mimpi, cita-cita, motivasi, cinta, sahabat dan diriku sendiri. Tapi, sebelum tahun ini aku juga memutuskan untuk merelakan semua kehilangan itu. Aku harus merelakan bahwa semua yang pernah kulalui sekarang tinggal kenangan dan aku harus melanjutkan hidupku. Aku harus minta maaf pada banyak orang, tapi aku harus minta maaf dan memaafkan diriku terlebih dahulu. Aku harus menerima diriku lebih dulu, kemudian menerima kehidupanku setelah itu baru aku bisa melanjutkan hidupku.

Semua hal yang kuanggap tidak adil dan semua hal yang belum bisa kuterima, semua tidak ada apa-apanya dibanding betapa Allah sangat menyayangiku. Aku saja yang selalu membandingkan hidupku dengan hidup orang lain. Aku tidak boleh melakukan itu lagi. Aku tidak hidup dalam kehidupan mereka. Aku tidak menjadi pemeran utama dalam kehidupan orang lain sekali pun aku menginginkannya. Tapi, faktanya itu tidak terjadi.

Tidak ada yang tidak adil jika itu tentang Qadha. Aku saja yang belum mengerti bagaimana bersyukur dengan benar. Aku selalu bercermin dengan cermin orang lain padahal itu tidak cocok untukku. Aku yang masih tidak punya mimpi takkan bisa dibandingkan dengan mereka yang sudah memilikinya. Aku yang tak tahu tentang passion takkan sebanding dengan mereka yang sudah memilikinya. Aku tidak bisa membandingkan diriku dengan orang lain.

Sekarang sudah saatnya aku merelakan semuanya. Semua hal yang sekarang menjadi kenangan. Mungkin, sebenarnya bukan aku tidak rela. Aku hanya rindu. Itu saja. Buktinya, saat aku melihat foto-fotoku di masa lalu, perasaanku membaik. Aku akhirnya bisa menerima bahwa semua sudah berakhir. Semua sudah tidak sama. Semua sudah jadi kenangan. Jadi, tidak apa-apa jika sesekali aku mengenang semua kenangan itu. Hanya sekedar mengenangnya untuk mengatasi rasa rindu. Dan setelah itu aku akan kembali sadar bahwa masa itu sudah berlalu.

Sekarang, aku juga harus melanjutkan hidupku. Aku harus bangkit dari tidur panjang ini. Aku harus bertahan hidup. Memperbaiki semua kesalahanku dan melakukan yang terbaik agar tak ada lagi penyesalan di kemudian hari.

Terima kasih Bangtan untuk lagu-lagunya yang penuh makna. Kalian menyadarkanku bahwa hidup dengan mimpi itu penting dan hidup tanpa mimpi itu hampa. Meski jalan kita berseberangan, aku senang karena aku bisa belajar dari kalian. Kalian muda dan berbakat. Tapi tidak hanya itu, kalian juga bekerja keras untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita kalian. Aku belum sampai pada titik itu dan aku akan berusaha. Aku akan berusaha untuk mengalahkan rasa takut dan kekhawatiranku dengan keyakinanku kepada Allah.

Terima kasih ya Allah. Terima kasih untuk semuanya. Aku tidak pernah punya alasan untuk berhenti mencintai-Mu. Tidak ada. Aku tidak punya alasan untuk itu.

Kumohon, tetaplah bantu aku untuk menapaki jalanku dalam kehidupan ini. Semoga aku selalu kuat dan sabar menjalani semuanya. Semoga aku kuat menghadapi diriku sendiri, semoga aku kuat menghadapi emosi dan stress yang nantinya pasti akan mendatangiku.

Sekarang aku sedang memulai masa-masa latihan. Ya, aku latihan menggunakan kemampuan “exploring”-ku. Aku harus banyak pengalaman. Dan aku harus mulai itu.

The Most Beautiful Moments in My Life is waiting for me.

Kendari, 23 Rabiul Awwal 1438 H. December 23rd 2016.

@ 23:17 WITA.